<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>salaf, salafy Blog</title>
	<atom:link href="http://salafsalafy.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://salafsalafy.wordpress.com</link>
	<description>Berjalan tegak diatas manhaj salafy</description>
	<lastBuildDate>Tue, 26 May 2009 09:48:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='salafsalafy.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>salaf, salafy Blog</title>
		<link>http://salafsalafy.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://salafsalafy.wordpress.com/osd.xml" title="salaf, salafy Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://salafsalafy.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Jagalah Lisan Dari Perkataan Mengutuk Dan melaknat</title>
		<link>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/26/jagalah-lisan-dari-mengutuk-dan-melaknat/</link>
		<comments>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/26/jagalah-lisan-dari-mengutuk-dan-melaknat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 09:48:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>generasighuroba</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[ahlussunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ghuroba]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[lisan]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj salaf]]></category>
		<category><![CDATA[melaknat]]></category>
		<category><![CDATA[salaf]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>
		<category><![CDATA[sunni]]></category>
		<category><![CDATA[sunny]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assahab.wordpress.com/?p=860</guid>
		<description><![CDATA[Kata laknat yang sudah menjadi bagian dari bahasa Indonesia memiliki dua makna dalam bahasa Arab : Pertama : Bermakna mencerca. Kedua : Bermakna pengusiran dan penjauhan dari rahmat Allah. Ucapan laknat ini mungkin terlalu sering kita dengar dari orang-orang di lingkungan kita dan sepertinya saling melaknat merupakan perkara yang biasa bagi sementara orang, padahal melaknat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafsalafy.wordpress.com&amp;blog=7689201&amp;post=860&amp;subd=salafsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata laknat yang sudah menjadi bagian dari bahasa Indonesia memiliki dua makna dalam bahasa Arab :</p>
<p>Pertama : Bermakna mencerca.<br />
Kedua : Bermakna pengusiran dan penjauhan dari rahmat Allah.</p>
<p>Ucapan laknat ini mungkin terlalu sering kita dengar dari orang-orang di lingkungan kita dan sepertinya saling melaknat merupakan perkara yang biasa bagi sementara orang, padahal melaknat seorang Mukmin termasuk dosa besar. Tsabit bin Adl Dlahhak radhiallahu &#8216;anhu berkata :<br />
“Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda : ‘Siapa yang melaknat seorang Mukmin maka ia seperti membunuhnya.’ ” (HR. Bukhari dalam Shahihnya 10/464)</p>
<p>Ucapan Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam : ((“Fahuwa Kaqatlihi”/Maka ia seperti membunuhnya)) dijelaskan oleh Al Hafidh Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah dalam kitabnya Fathul Bari : “Karena jika ia melaknat seseorang maka seakan-akan ia mendoakan kejelekan bagi orang tersebut dengan kebinasaan.”</p>
<p><span id="more-860"></span> Sebagian wanita begitu mudah melaknat orang yang ia benci bahkan orang yang sedang berpekara dengannya, sama saja apakah itu anaknya, suaminya, hewan atau selainnya. Sangat tidak pantas bila ada seseorang yang mengaku dirinya Mukmin namun lisannya terlalu mudah untuk melaknat. Sebenarnya perangai jelek ini bukanlah milik seorang Mukmin, sebagaimana Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda :<br />
“Bukanlah seorang Mukmin itu seorang yang suka mencela, tidak pula seorang yang suka melaknat, bukan seorang yang keji dan kotor ucapannya.” (HR. Bukhari dalam Kitabnya Al Adabul Mufrad halaman 116 dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu &#8216;anhu. Hadits ini disebutkan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i hafidhahullah dalam Kitabnya Ash Shahih Al Musnad 2/24)<br />
Dan melaknat itu bukan pula sifatnya orang-orang yang jujur dalam keimanannya (shiddiq), karena Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda : “Tidak pantas bagi seorang shiddiq untuk menjadi seorang yang suka melaknat.” (HR. Muslim no. 2597)</p>
<p>Pada hari kiamat nanti, orang yang suka melaknat tidak akan dimasukkan dalam barisan para saksi yang mempersaksikan bahwa Rasul mereka telah menyampaikan risalah dan juga ia tidak dapat memberi syafaat di sisi Allah guna memintakan ampunan bagi seorang hamba. Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda : “Orang yang suka melaknat itu bukanlah orang yang dapat memberi syafaat dan tidak pula menjadi saksi pada hari kiamat.” (HR. Muslim dalam Shahihnya no. 2598 dari Abi Darda radhiallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Perangai yang buruk ini sangat besar bahayanya bagi pelakunya sendiri. Bila ia melaknat seseorang, sementara orang yang dilaknat itu tidak pantas untuk dilaknat maka laknat itu kembali kepadanya sebagai orang yang mengucapkan. Imam Abu Daud rahimahullah meriwayatkan dari hadits Abu Darda radhiallahu &#8216;anhu bahwasannya Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda : “Apabila seorang hamba melaknat sesuatu maka laknat tersebut naik ke langit, lalu tertutuplah pintu-pintu langit. Kemudian laknat itu turun ke bumi lalu ia mengambil ke kanan dan ke kiri. Apabila ia tidak mendapatkan kelapangan, maka ia kembali kepada orang yang dilaknat jika memang berhak mendapatkan laknat dan jika tidak ia kembali kepada orang yang mengucapkannya.”</p>
<p>Kata Al Hafidh Ibnu Hajar hafidhahullah tentang hadits ini : “Sanadnya jayyid (bagus). Hadits ini memiliki syahid dari hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu &#8216;anhu dengan sanad yang hasan. Juga memiliki syahid lain yang dikeluarkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi dari hadits Ibnu Abbas radhiallahu &#8216;anhuma. Para perawinya adalah orang-orang kepercayaan (tsiqah), akan tetapi haditsnya mursal.”</p>
<p>Ada beberapa hal yang dikecualikan dalam larangan melaknat ini yakni kita boleh melaknat para pelaku maksiat dari kalangan Muslimin namun tidak secara ta’yin (menunjuk langsung dengan menyebut nama atau pelakunya). Tetapi laknat itu ditujukan secara umum, misal kita katakan : “Semoga Allah melaknat para pembegal jalanan itu… .”<br />
Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam sendiri telah melaknat wanita yang menyambung rambut dan wanita yang minta disambungkan rambutnya.</p>
<p>Beliau juga melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki dan masih banyak lagi. Berikut ini kami sebutkan beberapa haditsnya : “Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam melaknat wanita yang menyambung rambutnya (dengan rambut palsu/konde) dan wanita yang minta disambungkan rambutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)</p>
<p>Beliau Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam mengabarkan :<br />
“Allah melaknat wanita yang membuat tato, wanita yang minta dibuatkan tato, wanita yang mencabut alisnya, wanita yang minta dicabutkan alisnya, dan melaknat wanita yang mengikir giginya untuk tujuan memperindahnya, wanita yang merubah ciptaan Allah Azza wa Jalla.” (HR. Bukhari dan Muslim dari shahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu &#8216;anhu)<br />
“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya)</p>
<p>Dibolehkan juga melaknat orang kafir yang sudah meninggal dengan menyebut namanya untuk menerangkan keadaannya kepada manusia dan untuk maslahat syar’iyah. Adapun jika tidak ada maslahat syar’iyah maka tidak boleh karena Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda : “Janganlah kalian mencaci orang-orang yang telah meninggal karena mereka telah sampai/menemui (balasan dari) apa yang dulunya mereka perbuat.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya dari hadits ‘Aisyah radhiallahu &#8216;anha)</p>
<p>Setelah kita mengetahui buruknya perangai ini dan ancaman serta bahayanya yang bakal diterima oleh pengucapnya, maka hendaklah kita bertakwa kepada Allah Ta’ala. Janganlah kita membiasakan lisan kita untuk melaknat karena kebencian dan ketidaksenangan pada seseorang. Kita bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan menjaga dan membersihkan lisan kita dari ucapan yang tidak pantas dan kita basahi selalu dengan kalimat thayyibah. Wallahu a’lam bis shawwab.</p>
<p>(Dikutip dari MUSLIMAH Edisi 37/1421 H/2001 M Rubrik Akhlaq, MENJAGA LISAN DARI MELAKNAT Oleh : Ummu Ishaq Al Atsariyah. Terjemahan dari Kitab Nasihati lin Nisa’ karya Ummu Abdillah bintu Syaikh Muqbil Al Wadi’iyyah dengan beberapa perubahan dan tambahan)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafsalafy.wordpress.com/860/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafsalafy.wordpress.com/860/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafsalafy.wordpress.com/860/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafsalafy.wordpress.com/860/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafsalafy.wordpress.com/860/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafsalafy.wordpress.com/860/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafsalafy.wordpress.com/860/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafsalafy.wordpress.com/860/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafsalafy.wordpress.com/860/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafsalafy.wordpress.com/860/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafsalafy.wordpress.com/860/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafsalafy.wordpress.com/860/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafsalafy.wordpress.com/860/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafsalafy.wordpress.com/860/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafsalafy.wordpress.com&amp;blog=7689201&amp;post=860&amp;subd=salafsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/26/jagalah-lisan-dari-mengutuk-dan-melaknat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/59a1a5f92930558279e8b3dbad7cb74c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">generasighuroba</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Demonstrasi (Unjuk Rasa) Dalam Pandangan Syari&#039;at</title>
		<link>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/21/demonstrasi-unjuk-rasa-dalam-pandangan-syariat/</link>
		<comments>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/21/demonstrasi-unjuk-rasa-dalam-pandangan-syariat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 03:07:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>generasighuroba</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aktual]]></category>
		<category><![CDATA[ahlussunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[demonstrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ghuroba]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj salaf]]></category>
		<category><![CDATA[salaf]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>
		<category><![CDATA[sunni]]></category>
		<category><![CDATA[sunny]]></category>
		<category><![CDATA[syari&#039;at]]></category>
		<category><![CDATA[unjuk rasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assahab.wordpress.com/?p=857</guid>
		<description><![CDATA[Gejolak unjuk rasa atau demonstrasi yang saat ini sedang marak, mengundang komentar banyak pengamat. Sebagian mereka mengatakan : “Aksi unjuk rasa ini dipelopori oleh oknum-oknum tertentu.”Adapula yang berkomentar : “Tidak mungkin adanya gejolak kesemangatan untuk aksi kecuali ada yang memicu atau ngompori.” Sedangkan yang lain berkata : “Demonstrasi ini adalah ungkapan hati nurani rakyat.” Demikian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafsalafy.wordpress.com&amp;blog=7689201&amp;post=857&amp;subd=salafsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Gejolak unjuk  rasa atau demonstrasi yang saat ini sedang marak, mengundang komentar banyak  pengamat. Sebagian mereka mengatakan : “Aksi unjuk rasa ini dipelopori oleh  oknum-oknum tertentu.”</span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Adapula yang  berkomentar : “Tidak mungkin adanya gejolak kesemangatan untuk aksi kecuali ada  yang memicu atau ngompori.” Sedangkan yang lain berkata : “Demonstrasi ini  adalah ungkapan hati nurani rakyat.”</span></span></p>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Demikian komentar  para pengamat tentang demonstrasi yang terjadi di hampir semua universitas di  Indonesia. Sebagian mereka menentangnya dan menganggap para mahasiswa itu  ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu. Sebagian lain justru mendukung  mati-matian dan menganggapnya sebagai jihad.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Namun dalam  tulisan ini kita tidak menilai mana pendapat pengamat yang benar dan mana yang  salah. Tetapi kita berbicara dari sisi apakah demonstrasi ini bisa digunakan  sebagai sarana/alat dakwah kepada pemerintah atau tidak? Atau apakah tindakan  ini bisa dikatakan sebagai jihad[1]?</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><span id="more-857"></span><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">DEMONSTRASI  PERTAMA DALAM SEJARAH ISLAM</span></span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kasus terbunuhnya  Utsman bin Affan radliyallahu &#8216;anhu dan timbulnya pemikiran Khawarij sangat erat  hubungannya dengan demonstrasi. Kronologis kisah terbunuhnya Utsman radliyallahu  &#8216;anhu adalah berawal dari isu-isu tentang kejelekan Khalifah Utsman yang  disebarkan oleh Abdullah bin Saba’ di kalangan kaum  Muslimin.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Abdullah bin  Saba’ adalah seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam[2]. Sedangkan kita telah  maklum bagaimana karakter Yahudi itu karena Allah telah berfirman  :</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Niscaya engkau  akan dapati orang yang paling memusuhi (murka) kepada orang-orang yang beriman  adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrikin.” (Al Maidah :  82)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Permusuhan kaum  Yahudi terlihat sejak berkembangnya Islam, seperti mengkhianati janji mereka  terhadap Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam, merendahkan kaum Muslimin,  mencerca ajaran Islam, dan banyak lagi (makar-makar busuk mereka). Setelah Islam  kuat, tersingkirlah mereka dari Madinah. (Lihat Sirah Ibnu Hisyam juz 3 halaman  191 dan 199)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Pada zaman Abu  Bakar dan Umar radliyallahu &#8216;anhuma, suara orang-orang Yahudi nyaris hilang.  Bahkan Umar mengusir mereka dari Jazirah Arab sebagai realisasi perintah  Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam yang pernah bersabda  :</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Sungguh akan aku  keluarkan orang-orang Yahudi dan Nashara dari Jazirah Arab sampai aku tidak  sisakan padanya kecuali orang Muslim.” Juga Ucapan beliau : “Keluarkanlah  orang-orang musyrikin dari Jazirah Arab.” (HR. Bukhari)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Di tahun-tahun  terakhir kekhalifahan Utsman radliyallahu &#8216;anhu di saat kondisi masyarakat mulai  heterogen, banyak muallaf dan orang awam yang tidak mendalam keimanannya,  mulailah orang- orang Yahudi mengambil kesempatan untuk mengobarkan  fitnah.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Mereka  berpenampilan sebagai Muslim dan di antara mereka adalah Abdullah bin Saba’ yang  dijuluki Ibnu Sauda. Orang yang berasal dari Shan’a ini menebarkan benih-benih  fitnah di kalangan kaum Muslimin agar mereka iri dan benci kepada Utsman  radliyallahu &#8216;anhu.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Sedangkan inti  dari apa yang dia bawa adalah pemikiran-pemikiran pribadinya yang bernafaskan  Yahudi. Contohnya adalah qiyas-nya yang bathil tentang kewalian Ali radliyallahu  &#8216;anhu. Dia berkata : “Sesungguhnya telah ada seribu Nabi dan setiap Nabi  mempunyai wali. Sedangkan Ali walinya Muhammad Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam.”  Kemudian dia berkata lagi : “Muhammad adalah penutup para Nabi sedangkan Ali  adalah penutup para wali.”</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Tatkala tertanam  pemikiran ini dalam jiwa para pengikutnya, mulailah dia menerapkan tujuan  pokoknya yaitu melakukan pemberontakan terhadap kekhalifahan Utsman bin Affan  radliyallahu &#8216;anhu. Maka dia melontarkan pernyataan pada masyarakat yang  bunyinya : “Siapa yang lebih dhalim daripada orang yang tidak pantas mendapatkan  wasiat Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam (kewalian Rasul), kemudian dia  melampaui wali Rasulullah (yaitu Ali) dan merampas urusan umat (pemerintahan)!”  Setelah itu dia berkata : “Sesungguhnya Utsman mengambil kewalian  (pemerintahan)!” Setelah itu dia berkata : “Sesungguhnya Utsman mengambil  kewalian (pemerintahan) yang bukan haknya, sedang wali Rasulullah ini (Ali) ada  (di kalangan kalian). Maka bangkitlah kalian dan bergeraklah. Mulailah untuk  mencerca pejabat kalian tampakkan amar ma’ruf nahi munkar. Niscaya manusia  serentak mendukung dan ajaklah mereka kepada perkara ini.” (Tarikh Ar Rasul juz  4 halaman 340 karya Ath Thabary melalui Mawaqif)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Amar ma’ruf nahi  mungkar ala Saba’iyah ini sama modelnya dengan amar ma’ruf menurut Khawarij  yakni keluar dari pemerintahan dan memberontak, memperingatkan kesalahan aparat  pemerintahan di atas mimbar-mimbar, forum-forum, dan demonstasi-demonstasi yang  semua ini mengakibatkan timbulnya fitnah.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Masalah pun bukan  semakin reda, bahkan tambah menyala-nyala. Fakta sejarah telah membuktikan hal  ini. Amar ma’ruf nahi mungkar ala Saba’iyah dan Khawarij ini mengakibatkan  terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan radliyallahu &#8216;anhu, peperangan sesama kaum  Muslimin, dan terbukanya pintu fitnah dari zaman Khalifah Utsman sampai zaman  kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib radliyallahu &#8216;anhu. (Tahqiq Mawaqif Ash  Shahabati fil Fitnati min Riwayat Al Imam Ath Thabari wal Muhadditsin juz 2  halaman 342)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Sebenarnya amar  ma’ruf nahi mungkar yang mereka gembar-gemborkan hanyalah sebagai label dan  tameng belaka. Buktinya Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda kepada  Utsman :</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Hai Utsman,  nanti sepeninggalku Allah akan memakaikan pakaian padamu. Jika orang-orang ingin  mencelakakanmu pada waktu malam &#8211;dalam riwayat lain :&#8211; Orang-orang munafik  ingin melepaskannya, maka jangan engkau lepaskan. Beliau mengucapkannya tiga  kali.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya juz 6 halaman 75 dan At Tirmidzi dalam  Sunan-nya dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi  3/210 nomor 2923)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Syaikh Muhammad  Amhazurn berkomentar : “Hadits ini menunjukkan dengan jelas bahwa orang Khawarij  tidaklah menuntut keadilan dan kebenaran akan tetapi mereka adalah kaum yang  dihinggapi penyakit nifaq sehingga mereka bersembunyi dibalik tabir syiar  perdamaian dan amar ma’ruf nahi mungkar.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Tidak diketahui  di satu jamanpun adanya suatu jamaah atau kelompok yang lebih berbahaya bagi  agama Islam dan kaum Muslimin daripada orang-orang munafik.” (Tahqiq Mawaqif Ash  Shahabati juz 1 halaman 476)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Inilah hakikat  amar ma’ruf nahi mungkar kaum Saba’iyah dan Khawarij. Alangkah serupanya  kejadian dulu dan sekarang?!</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Di jaman ini  ternyata ada Khawarij Gaya Baru yaitu orang-orang yang mempunyai pemikiran  Khawarij. Mereka menjadikan demonstrasi, unjuk rasa, dan sebagainya sebagai alat  dan metode dakwah serta jihad. Di antara tokoh-tokoh mereka adalah Abdurrahman  Abdul Khaliq yang mengatakan (Al Fushul minas Siyasah Asy Syar’iyyah halaman  31-32) : “Termasuk metode atau cara Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam dalam  berdakwah adalah demonstrasi atau unjuk rasa.”</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Sebelum kita  membongkar kebathilan ucapan ini dan kesesatan manhaj Khawarij dalam beramar  ma’ruf nahi mungkar kepada pemerintahan, marilah kita pelajari manhaj Salafus  Shalih dalam perkara ini.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"></span></div>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">MANHAJ SALAFUS  SHALIH BERAMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR KEPADA PEMERINTAH</span></span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Allah adalah Dzat  Yang Maha Adil. Dia akan memberikan kepada orang-orang yang beriman seorang  pemimin yang arif dan bijaksana. Sebaliknya Dia akan menjadikan bagi rakyat yang  durhaka seorang pemimpin yang dhalim.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Maka jika terjadi  pada suatu masyarakat seorang pemimpin yang dhalim, sesungguhnya kedhaliman  tersebut dimulai dari rakyatnya. Meskipun demikian apabila rakyat dipimpin oleh  seorang penguasa yang melakukan kemaksiatan dan penyelisihan (terhadap syariat)  yang tidak mengakibatkan dia kufur dan keluar dari Islam maka tetap wajib bagi  rakyat untuk menasihati dengan cara yang sesuai dengan  syariat.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Bukan dengan  ucapan yang kasar lalu dilontarkan di tempat-tempat umum apalagi menyebarkan dan  membuka aib pemerintah yang semua ini dapat menimbulkan fitnah yang lebih besar  lagi dari permasalahan yang mereka tuntut.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Adapun dasar  memberikan nasihat kepada pemerintah dengan sembunyi-sembunyi adalah hadits  Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam :</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Barangsiapa yang  hendak menasihati pemerintah dengan suatu perkara maka janganlah ia tampakkan di  khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa (raja) dengan  empat mata. Jika ia menerima maka itu (yang diinginkan) dan kalau tidak, maka  sungguh ia telah menyampaikan nasihat kepadanya. Dosa bagi dia dan pahala  baginya (orang yang menasihati).”</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Hadits ini  dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Al Khaitsami dalam Al Majma’ 5/229, Ibnu Abi Ashim  dalam As Sunnah 2/522, Abu Nu’aim dalam Ma’rifatus Shahabah 2/121. Riwayat ini  banyak yang mendukungnya sehingga hadits ini kedudukannya shahih bukan hasan  apalagi dlaif sebagaimana sebagian ulama mengatakannya. Demikian keterangan  Syaikh Abdullah bin Barjas bin Nashir Ali Abdul Karim (lihat Muamalatul Hukam fi  Dlauil Kitab Was Sunnah halaman 54).</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan Syaikh Al  Albani menshahihkannya dalam Dzilalul Jannah fi Takhriji Sunnah 2/521-522.  Hadits ini adalah pokok dasar dalam menasihati pemerintah. Orang yang menasihati  jika sudah melaksanakan cara ini maka dia telah berlepas diri (dari dosa) dan  pertanggungjawaban. Demikian dijelaskan oleh Syaikh Abdullah bin  Barjas.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Bertolak dari  hadits yang agung ini, para ulama Salaf berkata dan berbuat sesuai dengan  kandungannya. Di antara mereka adalah Imam As Syaukani yang berkata : “Bagi  orang-orang yang hendak menasihati imam (pemimpin) dalam beberapa masalah  &#8211;lantaran pemimpin itu telah berbuat salah&#8211; seharusnya ia tidak menampakkan  kata-kata yang jelek di depan khalayak ramai.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Tetapi  sebagaimana dalam hadits di atas bahwa seorang tadi mengambil tangan imam dan  berbicara empat mata dengannya kemudian menasihatinya tanpa merendahkan penguasa  yang ditunjuk Allah. Kami telah menyebutkan pada awal kitab As Sair : Bahwasanya  tidak boleh memberontak terhadap pemimpin walaupun kedhalimannya sampai puncak  kedhaliman apapun, selama mereka menegakkan shalat dan tidak terlihat kekufuran  yang nyata dari mereka. Hadits- hadits dalam masalah ini  mutawatir.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Akan tetapi wajib  bagi makmur (rakyat) mentaati imam (pemimpin) dalam ketaatan kepada Allah dan  tidak mentaatinya dalam maksiat kepada Allah. Karena sesungguhnya tidak ada  ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.” (As  Sailul Jarar 4/556)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Imam Tirmidzi  membawakan sanadnya sampai ke Ziyad bin Kusaib Al Adawi. Beliau berkata : “Aku  di samping Abu Bakrah berada di bawah mimbar Ibnu Amir. Sementara itu Ibnu Amir  tengah berkhutbah dengan mengenakan pakaian tipis. Maka Abu Bilal[3] berkata :  “Lihatlah pemimpin kita, dia memakai pakaian orang fasik.”</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Lantas Abu Bakrah  berkata : “Diam kamu! Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa  Sallam bersabda : ‘Barangsiapa yang menghina (merendahkan) penguasa yang  ditunjuk Allah di muka bumi maka Allah akan menghinakannya.’ ” (Sunan At  Tirmidzi nomor 2224)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Syaikh Muhammad  bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan tata cara menasihati seorang  pemimpin sebagaimana yang dikatakan oleh Imam As Syaukani sampai pada  perkataannya : “ … sesungguhnya menyelisihi pemimpin dalam perkara yang bukan  prinsip dalam agama dengan terang-terangan dan mengingkarinya di  perkumpulan-perkumpulan masjid, selebaran-selebaran, tempat-tempat kajian, dan  sebagainya, itu semua sama sekali bukan tata cara menasihati. Oleh karena itu  jangan engkau tertipu dengan orang yang melakukannya walaupun timbul dari niat  yang baik. Hal itu menyelisihi cara Salafus Shalih yang harus diikuti. Semoga  Allah memberi hidayah padamu.” (Maqasidul Islam halaman 395)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Diriwayatkan dari  Usamah bin Zaid bahwasanya beliau ditanya : “Mengapa engkau tidak menghadap  Utsman untuk menasihatinya?” Maka jawab beliau : “Apakah kalian berpendapat  semua nasihatku kepadanya harus diperdengarkan kepada kalian? Demi Allah,  sungguh aku telah menasihatinya hanya antara aku dan dia. Dan aku tidak ingin  menjadi orang pertama yang membuka pintu (fitnah) ini.” (HR. Bukhari 6/330 dan  13/48 Fathul Bari dan Muslim dalam Shahih- nya 4/2290)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Syaikh Al Albani  mengomentari riwayat ini dengan ucapannya : “Yang beliau (Usamah bin Zaid)  maksudkan adalah (tidak melakukannya, pent.) terang-terangan di hadapan khalayak  ramai dalam mengingkari pemerintah. Karena pengingkaran terang-terangan bisa  berakibat yang sangat mengkhawatirkan. Sebagaimana pengingkaran secara  terang-terangan kepada Utsman mengakibatkan kematian  beliau[4].”</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Demikian metode  atau manhaj Salaf dalam amar ma’ruf nahi mungkar kepada pemerintah atau orang  yang mempunyai kekuasaan. Dengan demikian batallah manhaj Khawarij yang  mengatakan bahwa demonstrasi termasuk cara untuk berdakwah sebagaimana yang  dianggap oleh Abdurrahman Abdul Khaliq.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Manhaj Khawarij  ini menjadi salah satu sebab jeleknya sifat orang-orang Khawarij. Sebagaimana  dalam riwayat Said bin Jahm beliau berkata : “Aku datang ke Abdullah bin Abu  Aufa, beliau matanya buta, maka aku ucapkan salam.”</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Beliau bertanya  kepadaku : “Siapa engkau?” “Said bin Jahman,” jawabku. Beliau bertanya : “Kenapa  ayahmu?” Aku katakan : “Al Azariqah[5] telah membunuhnya.” Beliau berkata :  “Semoga Allah melaknat Al Azariqah, semoga Allah melaknat Al Azariqah.  Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam mengatakan bahwa mereka anjing-anjing  neraka.” Aku bertanya : “(Yang dilaknat sebagai anjing-anjing neraka) Al  Azariqah saja atau Khawarij semuanya?” Beliau menjawab : “Ya, Khawarij  semuanya.” Aku katakan : “Tetapi sesungguhnya pemerintah (telah) berbuat  kedhaliman kepada rakyatnya.” Maka beliau mengambil tanganku dan memegangnya  dengan sangat kuat, kemudian berkata : “Celaka engkau wahai Ibnu Jahman, wajib  atasmu berpegang dengan sawadul a’dham, wajib atasmu untuk berpegang dengan  sawadul a’dham. Jika engkau ingin pemerintah mau mendengar nasehatmu maka  datangilah dan khabarkan apa yang engkau ketahui. Itu kalau dia menerima, kalau  tidak, tinggalkan! Sesungguhnya engkau tidak lebih tahu darinya.” (HR. Ahmad  dalam Musnad-nya 4/383)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan masih banyak  lagi hadits-hadits mengenai celaan Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam  terhadap orang-orang Khawarij sebagai anjing-anjing neraka karena perbuatan  mereka sebagaimana telah dijelaskan.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Oleh karena itu,  bagi seorang Muslim yang masih mempunyai akal sehat, tidak mungkin dia akan rela  dirinya terjatuh pada jurang kenistaan seperti yang digambarkan oleh Rasulullah  Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam (sebagai anjing-anjing neraka). Maka wajib bagi  kita apabila hendak menasehati pemerintah, hendaklah dengan metode Salaf yang  jelas menghasilkan akibat yang lebih baik dan tidak menimbulkan bentrokan fisik  antara rakyat (demonstran) dengan aparat pemerintah yang akhirnya membawa  kerugian di kedua belah pihak atau munculnya tindak anarki.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">DEMONSTRASI ATAU  UNJUK RASA MERUPAKAN BENTUK TASYABUH (MENYERUPAI) ORANG-ORANG  KAFIR</span></span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Sangat  disayangkan, para demonstran ini mayoritas mereka adalah aktivis-aktivis Islam.  Tetapi mengapa mereka melakukan hal ini? Mana ciri Islam mereka? Atas dasar apa  melakukan hal hal itu? Apakah berdasarkan dalil ataukah berlandaskan syubhat  (kekaburan pemahaman)? Mereka &#8211; -mahasiswa/rakyat yang beragama Islam&#8212; tidak  sadar bahwa mereka telah melakukan perbuatan yang dilarang oleh Rasulullah  Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam, junjungan mereka, yaitu larangan menyerupai  orang-orang kafir. Beliau Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam mengabarkan :  “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka mereka termasuk kaum tersebut.”  Malah demonstrasi ini termasuk bentuk tasyabuh terhadap orang kafir. Telah  diterangkan oleh Syaikh Al Albani hafidhahullah tatkala seorang penanya  menyampaikan pertanyaan kepada beliau yang lengkapnya demikian  :</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Penanya : “Apa  hukumnya demonstrasi/unjuk rasa, misalnya para remaja, laki-laki maupun  perempuan keluar ke jalan-jalan?”</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Syaikh : “Para  perempuan juga?”</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Penanya : “Benar.  Sungguh ini telah terjadi!”</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Syaikh : “Masya  Allah.”</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Penanya : “Mereka  keluar ke jalan-jalan dalam rangka menentang sebagian permasalahan yang dituntut  atau diperintahkan oleh orang yang mereka anggap taghut-taghut, atau apa yang  mereka tuntut dari organisasi/partai-partai politik yang bertentangan dengan  mereka. Apa hukumnya perbuatan ini?”</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Syaikh : [ Aku  katakan --wabillahi taufiq--, jawaban dari soal ini termasuk pada kaidah dalam  sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang dikeluarkan oleh Abu Dawud  di dalam Sunan-nya dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radliyallahu 'anhu atau  hadits Ibnu Umar radliyallahu 'anhu --saya ragu apakah beliau Abdullah bin ‘Amr  atau Ibnu Umar-- ia berkata : “Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda  : “Aku diutus dengan pedang dekat sebelum hari kiamat sampai hingga hanya  Allah-lah yang disembah, tidak ada sekutu baginya. Dan Allah menjadikan rizqiku  di bawah naungan tombak, dijadikan kerendahan dan kekerdilan atas orang yang  menyelisihi pemerintah. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk  kaum mereka.” Yang dijadikan dalil dari ucapan beliau Shallallahu 'Alaihi Wa  Sallam ini adalah perkataan : “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia  termasuk kaum mereka.”</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Maka tasyabuh  (penyerupaan) seorang Muslim kepada seorang kafir tidak dibolehkan dalam Islam.  Tasyabuh kepada seorang kafir ada beberapa tingkatan dari segi hukum. Yang  tertinggi adalah haram dan yang terendah adalah makruh. Permasalahan ini sudah  diterangkan secara rinci oleh Syaikhul Islam di dalam kitabnya yang agung,  Iqtidla’ Shirathal Mustaqim Mukhalafata Ashabil Jahim secara rinci dan tidak  akan didapat selain dari beliau rahimahullah. Aku ingin memperingatkan perkara  yang lain, yang sepantasnya bagi Thalabul Ilmi memperhatikannya agar tidak  menyangka bahwa hanya tasyabuh saja yang dilarang syariat.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Ada perkara lain  --yang lebih tersamar-- yaitu perintah untuk menyelisihi orang-orang kafir.  Tasyabuh kepada orang-orang kafir adalah menjalankan kesukaan mereka. Adapun  menyelisihi orang-orang kafir adalah engkau bermaksud menyelisihi mereka pada  apa yang kita dan mereka mengerjakannya tetapi mereka tidak merubahnya. Seperti  sesuatu yang ditetapkan dengan ketetapan alami yang tidak berbeda antara Muslim  dengan kafir, karena sesungguhnya pada ketetapan ini, tidak ada usaha dan  kehendak dari makhluk. Karena yang demikian adalah sunnatullah tabarak wa ta’ala  kepada manusia dan engkau tidak akan mendapati sunnatullah itu berubah.  Sebagaimana telah shahih dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : “Sesungguhnya  orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak menyemir rambut-rambut mereka maka  selisihilah mereka (2X).” Sungguh dalam hal ini seorang Mukmin mungkin  menyerupai orang kafir dalam hal uban. Dan ini tidak ada perbedaannya. Engkau  tidak akan menemukan seorang Muslim yang tidak beruban kecuali sangat sedikit  sekali. Ada kesamaan di sini pada penampilan antara Muslim dan kafir yang  sama-sama keduanya tidak bisa memiliki/mengatur sebagaimana yang kami katakan  tadi. Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memerintahkan kita untuk  menyelisihi kaum musyrikin, yakni dengan menyemir uban rambut-rambut kita. Sama  saja rambut jenggot atau kepala. Untuk apa? Agar dengan ini tampak perbedaan  antara Muslim dan kafir. Maka apa tujuannya kalau apabila seorang kafir  mengerjakan suatu amalan lalu seorang Muslim ikut melakukannya dan terpengaruh  dengan perbuatan-perbuatan mereka? Ini kesalahan yang lebih parah daripada  menyelisihi. Dalam masalah ini, aku memperingatkannya sebelum memasuki bahasan  dalam menerangkan pertanyaan yang ditujukan padaku.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Jika telah  diketahui perbedaan antara tasyabuh dengan penyelisihan maka seorang Muslim yang  benar keislamannya hendaknya terus menerus berusaha menjauhi bertasyabuh dengan  orang kafir.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Sebaliknya harus  berusaha menyelisihi mereka. Dengan alasan inilah kami menyunnahkan  (membiasakan) meletakkan jam tangan di tangan kanan karena mereka yang pertama  kali membuat jam tangan memakainya di tangan kiri.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kami mengambil  istinbath demikian berdasar ucapan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :  “Maka selisihilah mereka.” Kalian mengetahui hadits ini : “Bahwa Yahudi dan  Nashara tidak menyemir rambut mereka maka selisihilah mereka.” Sebagaimana yang  diucapkan Syaikhul Islam dalam kitab tersebut (Iqtidla). Ucapan Rasulullah  Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : “Maka selisihilah mereka,” merupakan hujjah yang  mengisyaratkan penyelisihan terhadap orang-orang kafir sebagaimana yang  dikehendaki oleh As Sami’ul ‘Alim (Allah Subhanahu wa Ta'ala) dan direalisasikan  dalam kehidupan sehari-hari.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Oleh karena itu,  kami mendapati praktek penyelisihan dalam amalan dan hukum-hukum bukan termasuk  wajib. Seperti makan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam atau : “Shalatlah  kalian di atas sandal-sandal kalian.” “Selisihilah Yahudi (2X).” Di sini  diketahui bahwasanya shalat memakai sandal bukan fardlu. Beda dengan  memanjangkan jenggot, karena orang yang mencukurnya akan mendapat  dosa.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Adapun shalat  dengan bersandal itu adalah perkara yang sunnah (mustahab). Namun apabila  seorang Muslim terus menerus tidak memakai sandal ketika shalat justru telah  menyelisihi sunnah dan bukan menyelisihi Yahudi.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Ada suatu hal  yang perlu diperhatikan di sini sebagaimana dalam riwayat sikap tawadlu Ibnu  Mas’ud ketika beliau mempersilakan Abu Musa Al Asy’ari mengimami shalat waktu  itu. Padahal kedudukan Ibnu Mas’ud lebih utama dari Abu Musa radliyallahu 'anhu.  Pada waktu itu Abu Musa Al Asy’ari melepas sandalnya dan segera ditegur dengan  keras oleh Ibnu Mas’ud : “Bukankah ini perbuatan orang-orang Yahudi? Apakah kau  menganggap dirimu ada di lembah Thursina yang disucikan?” Ucapan Ibnu Mas’ud ini  menegaskan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : “Shalatlah di atas  sandal kalian dan selisihilah Yahudi!”</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Apabila dua  hakikat ini telah dipahami yaitu (larangan) tasyabuh dan (perintah) menyelisihi  kaum musyrikin maka wajib bagi kita untuk menjauhi setiap perilaku kesyirikan  dan segala bentuk kekufuran.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Rasulullah  Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Sungguh kalian benar-benar akan  mengikuti jalan-jalan yang ditempuh oleh orang-orang sebelum kalian sejengkal  demi sejengkal, sehasta demi sehasta, bahkan kalaupun mereka menyusuri atau  masuk ke lubang biawak niscaya kalian pun akan memasukinya.”</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berita dari Nabi  Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ini mengandung peringatan bagi umat ini. Namun di  samping itu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam juga mengatakan dalam  hadits mutawatir : “Akan selalu ada dari umatku suatu kelompok yang menampakkan  Al Haq. Tidak membahayakan mereka orang yang menyelisihi mereka sampai datang  hari kiamat.”</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Jadi Rasulullah  Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam itu telah memberikan khabar gembira dalam hadits  shahih ini bahwasanya umat ini terus dalam keadaan baik. Tatkala datang berita  ini, yaitu : “Sungguh kalian akan mengikuti jalan-jalan sebelum kalian.”  Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memaksudkan dalam hadits ini setiap  individu dalam umatnya akan mengikuti jalan orang-orang  kafir.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Maka ucapan itu  bermakna peringatan artinya : “Hati-hati kalian, jangan mengikuti sunnah orang-  orang sebelum kalian. Dan sesungguhnya akan ada dari kalian orang-orang yang  melakukannya.”</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dalam riwayat  lain selain riwayat As Shahihain, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam  menggambarkan perbuatan orang Yahudi pada tingkat yang sangat parah. Rasulullah  Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda (dalam riwayat itu) : “Bahkan ada dari  mereka (Yahudi) orang yang mendatangi (menzinahi) ibunya di tengah-tengah jalan  dan niscaya akan ada pula dari kalian yang akan  melakukanya.”</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kecenderungan  pada jaman ini telah membuktikan kebenaran Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa  Sallam tersebut walaupun masih perlu adanya penelitian yang lebih  mendalam.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan pada sebagian  hadits-hadits yang telah tsabit, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam  bersabda : “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ada di antara manusia  bersetubuh seperti bersetubuhnya keledai di jalan-jalan.” Ini adalah puncak  kejelekan tasyabuh terhadap orang- orang kafir.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Apabila kalian  telah mengetahui larangan bertasyabuh dan perintah untuk menyelisihi (orang-  orang kafir) maka kembali kepada permasalahan demonstrasi (unjuk rasa), kita  saksikan dengan mata kepala sendiri saat Perancis menguasai Suriah dan apa yang  terjadi di Aljazair. Di sana terdapat kesesatan dan tasyabuh dengan turut  sertanya para wanita dalam demonstrasi.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Demikian itu  merupakan kesempurnaan tasyabuh terhadap orang kafir baik laki-laki atau  perempuan. Karena kita melihat melalui foto-foto, berita lewat radio, dan  televisi atau selainnya tentang keluarnya beribu-ribu manusia dari kalangan  orang-orang kafir Afrika maupun Syiria dan yang lainnya.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Menurut ungkapan  orang-orang Syam, keluarga laki-laki dan wanita dalam keadaan “meleit temkit”.  Meleit temkit maksudnya mereka berdesakan antara punggung dengan punggung, atau  pinggul dengan pinggul, dan lain-lain. Saya katakan dari segi yang lain (yang  berhubungan dengan demonstrasi) : Bahwasanya demonstrasi ini menunjukkan sikap  taklid terhadap orang- orang kafir dalam rangka menolak undang-undang yang  ditetapkan oleh hakim-hakim mereka.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Demonstrasi ala  Eropa dengan sikap taklidiyah (ikut-ikutan) dari kalangan kaum Muslimin bukan  termasuk cara yang syar’i untuk memperbaiki hukum dan keadaan masyarakat. Dari  sini setiap jamaah hizbiyah kelompok Islam jelas telah melakukan kekeliruan  besar karena tidak menelusuri jalan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam di dalam  merubah keadaan masyarakat. Tidak ada dalam aturan Islam merubah keadaan  masyarakat dengan cara bergerombol-gerombol, berteriak-teriak, dan demonstrasi  (unjuk rasa).</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Islam mengajarkan  ketenangan dengan mengajarkan ilmu di kalangan kaum Muslimin serta mendidik  mereka di atas syariat Islam sampai berhasil walaupun harus dengan waktu yang  sangat panjang.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dengan ini saya  katakan dengan ringkas, demonstrasi dan unjuk rasa yang terjadi di sebagian  negara Islam pada asalnya adalah penyimpangan dari jalan kaum Mukminin[6] dan  tasyabuh (menyerupai) golongan kafir. Sungguh Allah telah berfirman (yang  artinya) : “Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan  mengikuti jalan yang bukan jalan orang- orang Mukmin, Kami biarkan dia berkuasa  terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan dia ke dalam  neraka Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisa’ :  115)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Penanya : “Mereka  &#8211;para demonstran&#8211; berdalih dengan dalil Sirah (sejarah Nabi) bahwasanya  setelah Umar radliyallahu &#8216;anhu masuk Islam, kaum Muslimin (serentak)  keluar.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Umar pada suatu  barisan sedang Hamzah di barisan lain. Maka mereka (yang pro demonstrasi)  mengatakan unjuk rasa ini untuk mengingkari taghut-taghut dan orang kafir  Quraisy. Bagaimanakah jawaban Anda dengan dalil semacam  ini?”</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Jawab : Jawaban  terhadap pendalilan semcam itu adalah : Berapa kali aksi demonstrasi ini terjadi  pada masyarakat Islam (dulu)? Hanya satu kali. Padahal sirah termasuk sunnah  yang diikuti, menurut ulama fiqih. Mereka mengatakan kalau tsabit dari  Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam suatu ibadah yang disyariatkan akan  diberi pahala orang yang melakukannya.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan dalam  pelaksanaannya pun tidak boleh terus-menerus tanpa putus karena dikhawatirkan  menyerupai perkara wajib dengan sebab lamanya waktu.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kebanyakan  manusia &#8211;menurut adat mereka&#8211; kalau ada salah satu Muslim meninggalkan sunnah  seperti ini niscaya akan diingkari dengan keras. Demikian menurut para ahli  fiqih. Maka bagaimana kalau ada suatu peristiwa yang sekilas terjadi pada waktu  tertentu seperti disebutkan di dalam sirah di atas kemudian dijadikan sunnah  yang diikuti bahkan dijadikan hujjah untuk mendukung apa yang diperbuat oleh  orang-orang kafir secara terus-menerus sedangkan kaum Muslimin tidak secara  mutlak melakukannya kecuali pada saat itu saja[7].</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kita mengetahui  kebanyakan pemerintahan mempunyai hukum-hukum yang keluar dari Islam dan  kadang-kadang manusia dipenjarakan dengan dhalim dan melampaui batas, maka  bagaimana sikap kaum Muslimin dalam hal ini? Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa  Sallam telah memerintahkan dalam hadits yang shahih wajibnya taat kepada  pemerintah walaupun dia mengambil hartamu dan memukul punggungmu. Namun  kenyataannya demonstrasi bukan ketaatan kepada pemerintah seperti yang  digariskan oleh Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Inilah yang aku  khawatirkan tentang apa yang dinamakan “kebangkitan (shahwah) suara kebenaran”,  bagaimana kita akan meridlainya? Bagaimana mungkin suatu “kebangkitan (shahwah)”  dengan perasaan, bukan dengan ilmu? Padahal ilmu itulah yang menjadikan perkara  itu dianggap baik atau buruk.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Tidak diragukan  lagi di Aljazair dan di setiap negara Islam, shahwah ini lahir dari pemuda  Muslim setelah mereka “bangun dari tidur”. Akan tetapi engkau akan melihat  mereka berjalan di atas jalan yang menunjukkan ketidakgigihan mereka dalam  menuntut ilmu Allah ‘Azza wa Jalla.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kita tidak  memperpanjang pembahasan. Cukuplah kita katakan pengambilan mereka terhadap  dalil ini menunjukkan kebodohan mereka terhadap fiqih Islam sebagaimana yang  kami telah isyaratkan di depan. Kejadian yang sesaat ini terbetik pada diri saya  dan saya teringat bahwa kejadian ini tercatat dalam sirah. Akan tetapi saya  belum bisa mendapati shahih atau tidaknya saat ini. Jika riwayat ini shahih  sanadnya maka dan ada salah seorang di antara kalian mendapati riwayat ini pada  kitab-kitab hadits standar, tolong ingatkan saya. Sehingga saya bisa memeriksa  barangkali riwayat tentang demonstrasi dalam sirah tersebut shahih. Maka  kalaupun shahih, hanya dilakukan sekali saja. Jika terjadi hanya sekali saja,  tentu tidak bisa dijadikan sunnah. Apalagi bila demonstrasi saat ini lebih  sering dilakukan oleh orang-orang kafir yang seharusnya kaum Muslimin  menyelisihinya.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kejadian ini  dilakukan oleh orang-orang kafir kemudian kita mengikutinya. Ulama Hanafiyah  telah membuat pijakan di dalam masalah fiqhiyah bahwasanya ada suatu masalah  yang merupakan sunnah Muhammadiyah yang tidak sepantasnya ditinggalkan, yaitu  sunnah membaca surat Sajadah pada pagi hari Jum’at (saat shalat Shubuh). Ini  terdapat dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim). Walaupun demikian ulama Hanafiyah  menganjurkan pada imam-imam masjid agar sesekali meninggalkannya, dikhawatirkan  apabila terus menerus diamalkan di kalangan orang awam, akan menganggkat  hukumnya keluar dari hukum asalnya.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kami mempunyai  bukti yang mendukung ketelitian dalam fiqih dan pemahaman terhadap sunnah ini.  Saya sangat ingat bahwasanya imam di masjid besar Damaskus, yaitu masjid Bani  Umayah, mengimami shalat shubuh di masjid tersebut dan dia tidak membaca surat  Sajadah.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Baru saja imam  salam, tiba-tiba mereka membentak dan mendatangi imam tersebut seraya berkata :  “Kenapa engkau tidak membaca surat Sajadah?” Kemudian dia menerangkan bahwa hal  itu adalah sunnah dan kadang-kadang dianjurkan untuk  meninggalkannya.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kejadian ini  terjadi karena imam masjid mengamalkan amalan tersebut secara terus-menerus dan  berlangsung lama. Dan saat itu ia tidak mengerjakan amalan  tersebut.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Lebih aneh lagi  yang terjadi pada diri saya. Pada suatu hari saya berada dalam perjalanan dari  Damaskus kira-kira 60 km ke Madhaya. Maka aku hampir di pagi hari Jum’at untuk  shalat berjamaah bersama kaum Muslimin di sana. Tatkala itu imam tidak  datang.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Maka mereka  mencari pengganti imam yang cocok. Mereka tidak mendapati pengganti kecuali  saya. Pada waktu itu saya masih muda dan jenggot saya baru tumbuh. Dalam keadaan  bingung, mereka menyuruh saya maju. Saya sebenarnya belum hafal surat Sajadah  dengan baik maka aku membaca surat Maryam. Aku membaca dua halaman awal. Tatkala  aku takbir untuk ruku maka aku merasakan semua makmum malah sujud. Ini  menunjukkan karena apa? Karena adat kebiasaan (yakni mereka sujud tilawah karena  kebiasaan dan bukan dengan ilmu, ed.).</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Seyogyanya para  imam menjaga keadaan masyarakatnya agar tidak ghuluw (berlebihan) pada sebagian  hukum-hukum. Lalu memberi penjelasan bahwa masalah syariat, wajib untuk diambil  dengan tanpa sikap keterlaluan hingga mengangkat derajat hukum sunnah menjadi  wajib dan sebaliknya yang wajib menjadi sunnah.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Semua ini adalah  ifrath dan tafrith yang tidak diperbolehkan. Inilah jawaban saya terhadap  pendalilan (riwayat Umar di atas) yang menunjukkan atas kebodohan orang yang  mengambil dalil dengannya. ] (Kaset Fatawa Jeddah nomor 89880, pagi Shubuh, hari  Ahad, 27 Jumadil Akhir 1410 H)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">BANTAHAN TERHADAP  SYUBHAT ABDURRAHMAN ABDUL KHALIQ</span></span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Di awal sudah  saya singgung masalah manhaj Abdurrahman Abdul Khaliq terhadap pemerintah  Muslimin. Yaitu bolehnya memakai demonstrasi sebagai alat dakwah dengan berdalil  riwayat Umar radliyallahu &#8216;anhu yang dibawakan oleh seorang penanya di atas. Dan  Syaikh Al Albani mengatakan bahwa beliau belum tahu shahih dan dlaifnya riwayat  tersebut. Syaikh Abdul Aziz bin Bazz telah membantah syubhat Abdurrahman Abdul  Khaliq dalam surat menyurat antara beliau dengan Abdurrahman Abdul Khaliq. Kata  Syaikh bin Bazz : “Engkau menyebutkan pada kitab Fushul Minas Siyasah As  Syar’iyyah halaman 31-32 bahwasanya termasuk dari uslub (metode) dakwah Nabi  Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam adalah demonstrasi. Aku belum pernah mengetahui  nash yang sharih dalam masalah ini. Maka aku mengharap faidah dari siapa kamu  mengambil dan dari kitab mana kamu dapatkan. Jika hal itu tidak ada sanadnya  maka kamu wajib untuk rujuk (kembali/bertaubat) dari hal itu. Karena aku tidak  tahu sama sekali nash-nash yang menunjukkan hal itu.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dengan  menggunakan demonstrasi atau unjuk rasa justru mengakibatkan banyak kerusakan.  Jika nash (dalil) itu shahih maka kamu harus menerangkan dengan jelas dan  sempurna sehingga orang-orang yang membuat kerusakan tidak berdalih dengannya  dalam demonstrasi-demonstrasi mereka yang bathil.” (Tanbihat wa Ta’biqat halaman  41)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Jawaban  Abdurrahman Abdul Khaliq : “Adapun ucapanku pada kitab Al Fushul Minas Siyasah  As Syar’iyyah fi Da’wah Ilallah halaman 31-33 maka aku katakan : Aku telah  menyebutkan demonstrasi-demonstrasi yang digelar itu sebagai wasilah (metode)  Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam dalam menampakkan dakwah Islam,  sebagaimana telah diriwayatkan bahwa setelah masuk Islamnya Umar radliyallahu  &#8216;anhu, kaum Muslimin keluar karena perintah Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa  Sallam pada dua shaf (barisan) dalam rangka menampakkan  kekuatan.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dalam satu  barisan terdapat Hamzah radliyallahu &#8216;anhu, sedang barisan yang lain ada Umar  bin Al Khattab radliyallahu &#8216;anhu beserta kaum Muslimin.” (Kemudian Abdurrahman  Abdul Khaliq membawakan riwayat dengan sanad-sanad yang diriwayatkan oleh Abu  Nu’aim di dalam Al Hilyah 1/40 dengan sanad sampai ke Ibnu Abbas radliyallahu  &#8216;anhu, Ibnu Abi Syaibah dalam As Shahabah 2/512, dan di dalam Tarikh-nya serta  Al Bazar).</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kemudian dia  (Abdurrahman Abdul Khaliq) berkata : “Tetapi setelah kedatangan surat Anda  (Syaikh bin Bazz) aku dapatkan bahwa pusat (poros) sanad hadits ini atas Ishaq  bin Abdullah bin Abi Farwah, dia mungkarul hadits.” Demikian pernyataan  Abdurrahman Abdul Khaliq.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Tapi anehnya  setelah itu dia mengatakan : “Aku berpandangan metode ini (demonstrasi) bisa  untuk dijadikan metode yang benar dalam mendorong/menganjurkan manusia dalam  shalat Jum’at dan jamaah … dalam rangka menampakkan banyaknya orang  Islam.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Demikian juga  memamerkan tentara-tentara Islam bersamaan dengan peralatan perang karena hal  ini dapat menaklukan hati-hati musuh dan menakuti musuh-musuh Allah serta  meninggikan syariat Islam.”</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Demikian cara  Ahlul Bid’ah. Setelah ditanya atau dibantah dari sisi pendalilan dan setelah  ucapan atau perbuatannya diketahui tidak benar bahkan palsu maka mereka tidak  mau merujuk kepada dalil yang shahih dan manhaj yang benar.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Bahkan dia  berkelit : “Maksud saya demikian, maksud saya demikian”, “boleh saja hadits  lemah &#8212; dalam hal ini palsu&#8211; dijadikan i’tibar”, dan berbagai silat lidah  lainnya pun meluncur tajam.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Maka saya  katakan, setelah atsarnya diketahui mungkar karena adanya rawi yang mungkarul  hadits pada sanadnya, tentu saja demonstrasi tidak bisa dijadikan hujjah dan  tidak bisa dijadikan manhaj amar ma’ruf nahi mungkar. Karena metode dakwah  adalah tauqifiyah, yakni harus sesuai dengan metode Rasulullah Shallallahu  &#8216;Alaihi Wa Sallam dan para shahabatnya.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Jikalau kisah  Umar itu shahih, maka penjelasannya adalah sebagaimana yang telah diterangkan  oleh Syaikh Al Albani. Dengan telah diketahui atsarnya dlaif bahkan mungkar,  maka tidak bisa lagi dijadikan sebagai dalil bolehnya demonstrasi, sekalipun  niatnya baik, sebagaimana telah diterangkan oleh Syaikh bin Bazz di atas.  Wallahu A’lam.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">KEMUNGKARAN-KEMUNGKARAN PADA ACARA UNJUK  RASA</span></span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Di atas sudah  diterangkan sebagian kemungkaran pada acara demo yaitu :</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">- Bentuk tasyabuh  dengan orang-orang kafir.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">- Termasuk khuruj  (menentang pemerintah) yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa  Sallam dalam riwayat Muslim dan lain-lain. (Lihat Nasehati)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">- Menceritakan  aib pemerintah di depan umum dalam bentuk orasi-orasi yang ini pun dilarang oleh  Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam. (Lihat Nasehati)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">- Ikhtilath  (bercampurnya laki-laki dan perempuan) bahkan berdesak-desakan. (Lihat SALAFY  rubrik Ahkam edisi 4 tahun pertama)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">- Tindak anarkis  yang seringkali timbul ke sana atau setelah demonstrasi dan  orasi-orasi.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">- Dan  lain-lain.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">SOLUSI DARI  KRISIS</span></span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Pada situasi  sekarang, masalah yang timbul bukan saja terjadi akibat satu aspek, misalnya  ekonomi. Tetapi juga terkait pada aspek lainnya, seperti sosial dan politik. Dan  krisis ini tidak bisa sembuh total manakala dibasmi dengan  kebathilan.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Suatu negara yang  dipimpin oleh pemimpin yang dhalim yang di dalamnya ditaburi praktek- praktek  kolusi, korupsi, dan nepotisme merupakan buah dari tindakan rakyatnya juga. Maka  kalau rakyatnya baik, niscaya Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala akan menganugerahkan  kepada mereka pemimpin yang arif dan bijaksana. Hal ini sudah dibuktikan oleh  junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam dan para Khulafaur  Rasyidin. Situasi yang kacau balau ini solusinya bukan dengan demonstrasi tetapi  dengan amar ma’ruf nahi mungkar dengan cara yang tepat dan benar. Kemudian  menyebarkan ilmu yang haq di kalangan umat agar muncul generasi-generasi yang  berbekal ilmu. Akhirnya diharapkan nanti setiap langkah yang mereka lakukan  diukur dengan ilmu syar’i yang haq. Dengan demikian akan musnahlah virus kolusi,  korupsi, dan virus- virus lainnya. Wallahu A’lam Bis Shawab.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">[1] Seperti  pendapatnya Abdurrahman Abdul Khaliq dan konco-konconya.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">[2] Orang yang  bergabung dengannya disebut golongan (firqah) Saba’iyah.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">[3] Mirdas bin  Udayah adalah seorang Khawarij. Lihat Tahdzibul Kamal oleh Imam Al Mizzi  7/399.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">[4] Mukhtashar  Shahih Muslim, ta’liq Syaikh Al Albani nomor 335.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">[5] Salah satu  aliran dari aliran-aliran Khawarij.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">[6] Shahabat,  ed.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">[7] Ini bukti  bahwa para shahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan seterusnya tidak mengambil  kejadian itu sebagai sunnah dalam rangka mengingkari  pemerintah.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">(sumber : Tulisan  Ustadz Zuhair Syarif, SALAFY XXVII/1419/1998/MABHATS)</span></span></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafsalafy.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafsalafy.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafsalafy.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafsalafy.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafsalafy.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafsalafy.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafsalafy.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafsalafy.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafsalafy.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafsalafy.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafsalafy.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafsalafy.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafsalafy.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafsalafy.wordpress.com/857/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafsalafy.wordpress.com&amp;blog=7689201&amp;post=857&amp;subd=salafsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/21/demonstrasi-unjuk-rasa-dalam-pandangan-syariat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/59a1a5f92930558279e8b3dbad7cb74c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">generasighuroba</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hubungan Syi&#039;ah Dengan Nikah Mut&#039;ah (Kawin Kontrak)</title>
		<link>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/15/hubungan-syiah-dengan-nikah-mutah-kawin-kontrak/</link>
		<comments>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/15/hubungan-syiah-dengan-nikah-mutah-kawin-kontrak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 14:16:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>generasighuroba</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hizbiyah/aliran]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Bahaya Syiah]]></category>
		<category><![CDATA[Hizbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[kawin]]></category>
		<category><![CDATA[kawin kontrak]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assahab.wordpress.com/?p=848</guid>
		<description><![CDATA[Jika kaum muslimin (salafy) memiliki pandangan bahwa pernikahan yang sah menurut syariat Islam merupakan jalan untuk menjaga kesucian harga diri mereka, maka kaum Syi’ah Rafidhah memiliki pandangan lain. Perzinaan justru memiliki kedudukan tersendiri di dalam kehidupan masyarakat mereka. Bagaimana tidak, perzinaan tersebut mereka kemas dengan nama agama yaitu nikah mut’ah. Tentu saja mereka tidak ridha [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafsalafy.wordpress.com&amp;blog=7689201&amp;post=848&amp;subd=salafsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-family:Arial;"></span></strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Jika kaum  muslimin (salafy) memiliki pandangan bahwa pernikahan yang sah menurut syariat Islam  merupakan jalan untuk menjaga kesucian harga diri mereka, maka kaum Syi’ah  Rafidhah memiliki pandangan lain. Perzinaan justru memiliki kedudukan tersendiri  di dalam kehidupan masyarakat mereka.</span></span></p>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Bagaimana tidak,  perzinaan tersebut mereka kemas dengan nama agama yaitu nikah mut’ah. Tentu saja  mereka tidak ridha kalau nikah mut’ah disejajarkan dengan perzinaan yang memang  benar-benar diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shalallahu’alaihi  Wassallam. Kenyataan-lah yang akan membuktikan hakekat nikah mut’ah ala Syi’ah  Rafidhah.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><span id="more-848"></span><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">DEFINISI NIKAH  MUT’AH</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Nikah mut’ah  adalah sebuah bentuk pernikahan yang dibatasi dengan perjanjian waktu dan upah  tertentu tanpa memperhatikan perwalian dan saksi, untuk kemudian terjadi  perceraian apabila telah habis masa kontraknya tanpa terkait hukum perceraian  dan warisan. (Syarh Shahih Muslim hadits no. 1404 karya An-Nawawi dengan  beberapa tambahan)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">HUKUM NIKAH  MUT’AH</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Pada awal  tegaknya agama Islam, nikah mut’ah diperbolehkan oleh Rasulullah  Shalallahu’alaihi Wassallam di dalam beberapa sabdanya, di antaranya hadits  Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu dan Salamah bin Al- Akwa’ Radhiyallahu  ‘anhu</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Bahwa Rasulullah  Shalallahu’alaihi Wassallam pernah menemui kami kemudian mengizinkan kami untuk  melakukan nikah mut’ah.” (HR. Muslim)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Al-Imam Al-Muzani  rahimahullah berkata: “Telah sah bahwa nikah mut’ah dulu pernah diperbolehkan  pada awal-awal Islam. Kemudian datang hadits-hadits yang shahih bahwa nikah  tersebut tidak diperbolehkan lagi. Kesepakatan ulama telah menyatakan keharaman  nikah tersebut.” (Syarh Shahih Muslim hadits no. 1404 karya  An-Nawawi)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan beliau  Shalallahu’alaihi Wassallam bersabda: “Wahai manusia! Sesungguhnya aku dulu  pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Namun sekarang Allah  Subhanahu Wa Ta’ala telah mengharamkan nikah tersebut sampai hari kiamat.” (HR.  Muslim)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Adapun nikah  mut’ah yang pernah dilakukan beberapa sahabat di zaman kekhalifahan Abu Bakr  Radhiyallahu ‘anhu dan Umar Radhiyallahu ‘anhum, maka hal itu disebabkan mereka  belum mendengar berita tentang diharamkannya nikah mut’ah selama-lamanya. (Syarh  Shahih Muslim hadits no. 1405 karya An- Nawawi)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">GAMBARAN NIKAH  MUT’AH DI JAMAN RASULULLAH Shalallahu’alaihi Wassallam</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Di dalam beberapa  riwayat yang sah dari Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam, jelas sekali gambaran  nikah mut’ah yang dulu pernah dilakukan para sahabat Radhiyallahu  ‘anhum.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Gambaran tersebut  dapat dirinci sebagai berikut :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">1. Dilakukan pada  saat mengadakan safar (perjalanan) yang berat seperti perang, bukan ketika  seseorang menetap pada suatu tempat (HR. Muslim hadits no.  1404)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">2. Tidak ada  istri atau budak wanita yang ikut dalam perjalanan tesebut (HR. Bukhari no. 5116  dan Muslim no. 1404)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">3. Jangka waktu  nikah mut’ah hanya 3 hari saja (HR. Bukhari no. 5119 dan Muslim no.  1405)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">4. Keadaan para  pasukan sangat darurat untuk melakukan nikah tersebut sebagaimana mendesaknya  seorang muslim memakan bangkai, darah dan daging babi untuk mempertahankan  hidupnya (HR. Muslim no. 1406)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">NIKAH MUT’AH  MENURUT TINJAUAN SYI’AH RAFIDHAH</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dua kesalahan  besar telah dilakukan kaum Syi’ah Rafidhah ketika memberikan tinjauan tentang  nikah mut’ah. Dua kesalahan tersebut adalah:</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Penghalalan Nikah  Mut’ah yang Telah Diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Bentuk  penghalalan mereka nampak dari kedudukan nikah mut’ah itu sendiri di kalangan  mereka. Ash-Shaduq di dalam kitab Man Laa Yahdhuruhul Faqih dari Ash-Shadiq  berkata: “Sesungguhnya nikah mut’ah itu adalah agamaku dan agama pendahuluku.  Barangsiapa mengamalkannya maka dia telah mengamalkan agama kami. Sedangkan  barangsiapa mengingkarinya maka dia telah mengingkari agama kami dan meyakini  selain agama kami.”</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Di dalam halaman  yang sama, Ash-Shaduq mengatakan bahwa Abu Abdillah pernah ditanya: “Apakah  nikah mut’ah itu memiliki pahala ?” Maka beliau menjawab: “Bila dia mengharapkan  wajah Allah (ikhlas), maka tidaklah dia membicarakan keutamaan nikah tersebut  kecuali Allah tulis baginya satu kebaikan. Apabila dia mulai mendekatinya maka  Allah ampuni dosanya. Apabila dia telah mandi (dari berjima’ ketika nikah  mut’ah, pen) maka Allah ampuni dosanya sebanyak air yang mengalir pada  rambutnya”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Bahkan As-Sayyid  Fathullah Al Kasyaani di dalam Tafsir Manhajish Shadiqiin 2/493 melecehkan  kedudukan para imam mereka sendiri ketika berdusta atas nama Nabi  Shalallahu’alaihi Wassallam, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa melakukan nikah  mut’ah satu kali maka derajatnya seperti Al-Husain, barangsiapa melakukannya dua  kali maka derajatnya seperti Al- Hasan, barangsiapa melakukannya tiga kali maka  derajatnya seperti Ali Radhiyallahu ‘anhu dan barangsiapa melakukannya sebanyak  empat kali maka derajatnya seperti aku.”</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Betapa Keji dan  Kotor Gambaran Nikah Mut’ah Ala Syi’ah Rafidhah</span></span></strong></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">1. Akad  nikah</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Di dalam Al Furu’  Minal Kafi 5/455 karya Al-Kulaini, dia menyatakan bahwa Ja’far Ash-Shadiq pernah  ditanya seseorang: “Apa yang aku katakan kepada dia (wanita yang akan dinikahi,  pen) bila aku telah berduaan dengannya?” Maka beliau menjawab: “Engkau katakan:  Aku menikahimu secara mut’ah berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, namun  engkau tidak mendapatkan warisan dariku dan tidak pula memberikan warisan apapun  kepadaku selama sehari atau setahun dengan upah senilai dirham demikian dan  demikian.” Engkau sebutkan jumlah upah yang telah disepakati baik sedikit maupun  banyak.” Apabila wanita tersebut mengatakan: “Ya” berarti dia telah ridha dan  halal bagi si pria untuk menggaulinya. (Al-Mut’ah Wa Atsaruha Fil-Ishlahil  Ijtima’i hal. 28-29 dan 31)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">2. Tanpa disertai  wali si wanita</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Sebagaimana  Ja’far Ash-Shadiq berkata: “Tidak apa-apa menikahi seorang wanita yang masih  perawan bila dia ridha walaupun tanpa ijin kedua orang tuanya.” (Tahdzibul Ahkam  7/254)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">3. Tanpa disertai  saksi (Al-Furu’ Minal Kafi 5/249)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">4. Dengan siapa  saja nikah mut’ah boleh dilakukan?</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Seorang pria  boleh mengerjakan nikah mut’ah dengan:</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">-wanita Majusi.  (Tahdzibul Ahkam 7/254)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">-wanita Nashara  dan Yahudi. (Kitabu Syara’i’il Islam hal. 184)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">-wanita pelacur.  (Tahdzibul Ahkam 7/253)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">-wanita pezina.  (Tahriirul Wasilah hal. 292 karya Al-Khumaini)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">-wanita  sepersusuan. (Tahriirul Wasilah 2/241 karya Al-Khumaini)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">-wanita yang  telah bersuami. (Tahdzibul Ahkam 7/253)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">-istrinya sendiri  atau budak wanitanya yang telah digauli. (Al-Ibtishar 3/144)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">-wanita  Hasyimiyah atau Ahlul Bait. (Tahdzibul Ahkam 7/272)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">-sesama pria yang  dikenal dengan homoseks. (Lillahi … Tsumma Lit-Tarikh hal.  54)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">5. Batas usia  wanita yang dimut’ah</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Diperbolehkan  bagi seorang pria untuk menjalani nikah mut’ah dengan seorang wanita walaupun  masih berusia sepuluh tahun atau bahkan kurang dari itu. (Tahdzibul Ahkam 7/255  dan Lillahi … Tsumma Lit-Tarikh hal. 37)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">6. Jumlah wanita  yang dimut’ah</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kaum Rafidhah  mengatakan dengan dusta atas nama Abu Ja’far bahwa beliau membolehkan seorang  pria menikahi walaupun dengan seribu wanita karena wanita-wanita tersebut adalah  wanita-wanita upahan. (Al-Ibtishar 3/147)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">7. Nilai  upah</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Adapun nilai upah  ketika melakukan nikah mut’ah telah diriwayatkan dari Abu Ja’far dan putranya,  Ja’far yaitu sebesar satu dirham atau lebih, gandum, makanan pokok, tepung,  tepung gandum, atau kurma sebanyak satu telapak tangan. (Al-Furu’ Minal Kafi  5/457 dan Tahdzibul Ahkam 7/260)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">8. Berapa kali  seorang pria melakukan nikah mut’ah dengan seorang wanita?</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Diijinkan bagi  seorang pria untuk melakukan mut’ah dengan seorang wanita berapa kali dia  kehendaki. (Al-Furu’ Minal Kafi 5/460-461)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">9. Bolehkah  seorang suami meminjamkan istri atau budak wanitanya kepada orang  lain?</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kaum Syi’ah  Rafidhah membolehkan adanya perbuatan tersebut dengan dua  model:</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Bila seorang  suami ingin bepergian, maka dia menitipkan istri atau budak wanitanya kepada  tetangga, kawannya, atau siapa saja yang dia pilih. Dia membolehkan istri atau  budak wanitanya tersebut diperlakukan sekehendaknya selama suami tadi  bepergian.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">A. Alasannya agar  istri atau budak wanitanya tersebut tidak berzina sehingga dia tenang selama di  perjalanan!!!</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">B. Bila seseorang  kedatangan tamu maka orang tersebut bisa meminjamkan istri atau budak wanitanya  kepada tamu tersebut untuk diperlakukan sekehendaknya selama bertamu. Itu semua  dalam rangka memuliakan tamu!!!</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">(Lillahi … Tsumma  Lit-Tarikh hal. 47)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">10. Nikah mut’ah  hanya berlaku bagi wanita-wanita awam. Adapun wanita-wanita milik para pemimpin  (sayyid) Syi’ah Rafidhah tidak boleh dinikahi secara mut’ah. (Lillahi … Tsumma  Lit- Tarikh hal. 37-38)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">11. Diperbolehkan  seorang pria menikahi seorang wanita bersama ibunya, saudara kandungnya, atau  bibinya dalam keadaan pria tadi tidak mengetahui adanya hubungan kekerabatan di  antara wanita tadi. (Lillahi … Tsumma Lit-Tarikh hal. 44)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">12. Sebagaimana  mereka membolehkan digaulinya seorang wanita oleh sekian orang pria secara  bergiliran. Bahkan, dimasa Al-‘Allamah Al-Alusi ada pasar mut’ah, yang  dipersiapkan padanya para wanita dengan didampingi para penjaganya (germo).  (Lihat Kitab Shobbul Adzab hal. 239)</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">ALI BIN ABI  THALIB Radhiyallahu ‘anhu MENENTANG NIKAH MUT’AH</span></span></strong></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Para pembaca,  bila kita renungkan secara seksama hakikat nikah mut’ah ini, maka tidaklah  berbeda dengan praktek/transaksi yang terjadi di tempat-tempat lokalisasi. Oleh  karena itu di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan dari Ali  bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu-yang diklaim oleh kaum Syi’ah Rafidhah sebagai  imam mereka- bahwa beliau menentang nikah mut’ah. Beliau Radhiyallahu ‘anhu  mengatakan: “Sesungguhnya Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam telah melarang nikah  mut’ah dan daging keledai piaraan pada saat perang Khaibar.” Beliau (Ali  Radhiyallahu ‘anhu) juga mengatakan bahwa hukum bolehnya nikah mut’ah telah  dimansukh atau dihapus sebagaimana di dalam Shahih Al-Bukhari hadits no.  5119.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Wallahu A’lam  Bish Showab.</span></span></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafsalafy.wordpress.com/848/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafsalafy.wordpress.com/848/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafsalafy.wordpress.com/848/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafsalafy.wordpress.com/848/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafsalafy.wordpress.com/848/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafsalafy.wordpress.com/848/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafsalafy.wordpress.com/848/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafsalafy.wordpress.com/848/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafsalafy.wordpress.com/848/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafsalafy.wordpress.com/848/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafsalafy.wordpress.com/848/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafsalafy.wordpress.com/848/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafsalafy.wordpress.com/848/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafsalafy.wordpress.com/848/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafsalafy.wordpress.com&amp;blog=7689201&amp;post=848&amp;subd=salafsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/15/hubungan-syiah-dengan-nikah-mutah-kawin-kontrak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/59a1a5f92930558279e8b3dbad7cb74c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">generasighuroba</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hakikat Hidup Di Dunia</title>
		<link>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/12/hakikat-hidup-di-dunia/</link>
		<comments>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/12/hakikat-hidup-di-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 01:32:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>generasighuroba</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[ahlussunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ghuroba]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj salaf]]></category>
		<category><![CDATA[salaf]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>
		<category><![CDATA[sunni]]></category>
		<category><![CDATA[sunny]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assahab.wordpress.com/?p=834</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Buletin Da&#8217;wah Al Wala Wal Bara&#8217;, Bandung Seorang mukmin hidup di dunia ibaratnya seperti orang asing atau musafir. Suatu permisalan yang penuh makna dan pesan yang agung. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang selayaknya dijadikan pelajaran dan diterapkan oleh seorang mukmin dalam kehidupannya di dunia. عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafsalafy.wordpress.com&amp;blog=7689201&amp;post=834&amp;subd=salafsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Penulis: Buletin  Da&#8217;wah Al Wala Wal Bara&#8217;, Bandung</span></span></strong></p>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Seorang mukmin  hidup di dunia ibaratnya seperti orang asing atau musafir. Suatu permisalan yang  penuh makna dan pesan yang agung. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah  shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang selayaknya dijadikan pelajaran dan diterapkan  oleh seorang mukmin dalam kehidupannya di dunia.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"></span></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">عَنِ ابْنِ  عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ  وَآلِهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ  أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ. وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ: </span></span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"></span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"></span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"></span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ  تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ  لِمَوْتِكَ</span></span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dari Ibnu &#8216;Umar  radhiyallahu &#8216;anhu berkata, &#8220;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memegang  kedua pundakku lalu bersabda, &#8220;Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing  atau musafir (orang yang bepergian).&#8221; Lalu Ibnu &#8216;Umar radhiyallahu &#8216;anhu  menyatakan, &#8220;Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga  pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga  sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan  pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.&#8221; (HR. Al- Bukhariy  no.6416)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><span id="more-834"></span>Para &#8216;ulama  menjelaskan hadits ini dengan mengatakan, &#8220;Janganlah engkau condong kepada  dunia; janganlah engkau menjadikannya sebagai tempat tinggal (untuk  selama-lamanya -pent); janganlah terbetik dalam hatimu untuk tinggal lama  padanya; dan janganlah engkau terikat dengannya kecuali sebagaimana terikatnya  orang asing di negeri keterasingannya (yakni orang asing tidak akan terikat di  tempat tersebut kecuali sedikit sekali dari sesuatu yang dia butuhkan pent.);  dan janganlah engkau tersibukkan padanya dengan sesuatu yang orang asing yang  ingin pulang ke keluarganya tidak tersibukkan dengannya; dan Allah-lah yang  memberi taufiq.&#8221;</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Permisalan  Seorang Mukmin di Dunia</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Inilah permisalan  yang disebutkan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan inilah kenyataannya.  Karena sesungguhnya seseorang di dunia ibaratnya seorang musafir. Maka dunia  bukanlah tempat tinggal yang tetap (selama-lamanya). Bahkan dunia itu sekedar  tempat lewat yang cepat berlalunya. Orang yang melewatinya tidak pernah merasa  letih baik malam maupun siang hari.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Adapun seorang  musafir biasa, kadang-kadang dia singgah di suatu tempat lalu dia bisa  beristirahat. Akan tetapi musafir dunia (yakni permisalan orang mukmin di dunia  �pent.) tidak pernah singgah, dia terus-menerus dalam keadaan safar  (perjalanan). Berarti setiap saat dia telah menempuh suatu jarak dari dunia ini  yang mendekatkannya ke negeri akhirat.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Maka bagaimana  sangkaanmu terhadap suatu perjalanan yang pelakunya senantiasa berjalan dan  terus bergerak, bukankah dia akan sampai ke tempat tujuan dengan cepat? Tentu,  dia akan cepat sampai. Karena inilah Allah Ta&#8217;ala  menyatakan,</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">كَأَنَّهُمْ  يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ  ضُحَاهَا</span></span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Pada hari mereka  melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia)  melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.&#8221;  (An-Naazi&#8217;aat:46)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Makna Hadits  Ini</span></span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata  Ath-Thibiy, &#8220;Kata &#8216;atau&#8217; (dalam hadits ini) tidaklah menunjukkan keraguan bahkan  menunjukkan pilihan dan kebolehan dan yang paling baiknya adalah bermakna  &#8216;bahkan&#8217;.&#8221; Yakni maknanya: &#8220;Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing  atau bahkan seperti musafir.&#8221;</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Orang mukmin  ketika hidup di dunia, kedudukannya seperti orang asing. Maka hatinya pun tidak  akan terikat dengan sesuatu di negeri keterasingannya tersebut. Bahkan hatinya  terikat dengan tempat tinggal (negerinya) yang dia akan kembali kepadanya. Dan  dia menjadikan tinggalnya di dunia hanya sekedar untuk menunaikan kebutuhannya  dan mempersiapkan diri untuk kembali ke negerinya. Inilah keadaan orang yang  asing.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Atau bahkan  seorang mukmin itu seperti musafir yang tidak pernah menetap di suatu tempat  tertentu. Bahkan dia terus-menerus berjalan menuju tempat  tinggalnya.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Maka seorang  mukmin hidup di dunia ini ibaratnya seperti seorang hamba yang ditugaskan oleh  tuannya untuk suatu keperluan ke suatu negeri. Hamba tersebut tentunya ingin  bersegera melaksanakan apa yang ditugaskan oleh tuannya lalu kembali ke  negerinya. Dan dia tidak akan terikat dengan sesuatu kecuali apa yang ditugaskan  oleh tuannya.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Keadaan Orang  Asing dan Musafir</span></span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata Al-Imam  Abul Hasan &#8216;Ali bin Khalaf di dalam Syarh Al-Bukhariy, &#8220;Berkata Abu Zinad,  &#8220;Makna hadits ini adalah anjuran untuk sedikit bergaul dan berkumpul serta zuhud  terhadap dunia.&#8221;</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kemudian Abul  Hasan berkata, &#8220;Penjelasannya adalah bahwa orang asing biasanya sedikit  berkumpul dengan manusia sehingga terasing dari mereka. Karena hampir-hampir dia  tidak pernah melewati orang yang dikenalnya dan diakrabinya serta orang-orang  yang biasanya berkumpul dengannya. Sehingga dia pun merasa rendah diri dan  takut.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Demikian pula  dengan seorang musafir. Dia tidak melakukan perjalanan melainkan sekedar  kekuatannya. Dan dia pun hanya membawa beban yang ringan agar tidak terbebani  untuk menempuh perjalanannya. Dia tidak membawa apa-apa kecuali hanya sekedar  bekal dan kendaraan sebatas yang dapat menyampaikannya kepada  tujuan.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Hal ini  menunjukkan bahwa sikap zuhud terhadap dunia dimaksudkan agar dapat sampai  kepada tujuan dan mencegah kegagalan. Seperti halnya seorang musafir. Dia tidak  membutuhkan membawa bekal yang banyak kecuali sekedar apa yang bisa  menyampaikannya ke tempat tujuan.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Demikian pula  halnya dengan seorang mukmin dalam kehidupan di dunia ini. Dia tidak membutuhkan  banyak bekal kecuali hanya sekedar bekal untuk mencapai tujuan hidupnya yakni  negeri akhirat.&#8221;</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dia tidak  mengambil bagian dari dunia ini kecuali apa-apa yang bisa membantunya untuk taat  kepada Allah dan ingat negeri akhirat. Hal inilah yang akan memberikan manfaat  kepadanya di akhirat.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata Al-&#8217;Izz  &#8216;Ila`uddin bin Yahya bin Hubairah, &#8220;Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah  shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menganjurkan agar kita menyerupai orang asing.  Karena orang asing itu apabila memasuki suatu negeri, dia tidak mau bersaing  dengan penduduk pribumi. Dan tidak pula berbuat sesuatu yang mengejutkan  sehingga orang-orang melihat dia melakukan sesuatu yang berbeda dengan kebiasaan  mereka. Misalnya dalam berpakaian. Sehingga dia pun tidak bermusuhan dengan  mereka. Tentunya selama dalam batasan syar&#8217;i.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Demikian pula  halnya dengan seorang musafir. Dia tidak mendirikan rumah dalam perjalanannya.  Dan dia menghindari perselisihan dengan manusia karena dia ingat bahwa dia  tinggal bersama mereka hanyalah untuk sementara waktu saja.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Maka setiap  keadaan orang asing ataupun seorang musafir adalah baik bagi seorang mukmin  untuk diterapkan dalam kehidupannya di dunia. Karena dunia bukanlah negerinya,  juga karena dunia telah membatasi antara dirinya dengan negerinya yang  sebenarnya (yakni negeri akhirat).&#8221;</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Demikianlah sikap  yang harus dimiliki oleh seorang mukmin. Dia tidaklah berlomba-lomba dan  bersaing dalam masalah dunia sebagaimana orang asing. Dan juga tidak berniat  tinggal seterusnya di dunia sebagaimana seorang musafir.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Jangan  Menunda-nunda Amal!</span></span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Adapun perkataan  Ibnu &#8216;Umar, &#8220;Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga  pagi hari, dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga  sore hari&#8221; adalah anjuran beliau agar seorang mukmin senantiasa mempersiapkan  diri terhadap datangnya kematian. Sedangkan mempersiapkan datangnya kematian  adalah dengan amal shalih. Dan beliau juga menganjurkan agar memendekkan  angan-angan.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Maksudnya adalah  janganlah menunggu amal-amal yang bisa dikerjakan di malam hari untuk pagi hari.  Bahkan bersegeralah beramal. Begitu pula tatkala pagi hari. Janganlah terbetik  di dalam hatimu bahwa engkau akan bertemu dengan sore hari sehingga engkau pun  akhirkan amal-amal pagimu untuk malam hari.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Ketika engkau  berada di waktu sore janganlah mengatakan, &#8220;Nanti, masih ada waktu pagi&#8221;. Betapa  banyaknya seseorang yang berada di sore hari tidak menjumpai waktu pagi.  Demikian juga ketika engkau berada di waktu pagi janganlah mengatakan, &#8220;Nanti,  masih ada waktu sore.&#8221; Karena betapa banyaknya seseorang yang berada di waktu  pagi tetapi tidak menjumpai sore hari dikarenakan ajal  menjemputnya.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kalaupun engkau  bisa menjumpai waktu pagi atau sore, belum tentu engkau bisa melakukan pekerjaan  yang engkau tunda dikarenakan kesibukan menghampirimu atau sakit menimpamu. Hal  ini telah diingatkan oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan  sabdanya,</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">نِعْمَتَانِ  مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ  وَالْفَرَاغُ</span></span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Ada dua nikmat  yang kebanyakan manusia tertipu pada keduanya (yaitu): nikmat sehat dan waktu  luang.&#8221; (HR. Al-Bukhariy dari Ibnu &#8216;Abbas radhiyallahu  &#8216;anhuma)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Ketika datang  waktu sakit dia baru merasakan betapa nikmatnya sehat. &#8220;Kenapa ketika sehat saya  tidak menggunakannya untuk beramal shalih?&#8221; Ketika datang waktu sibuknya dia  baru sadar betapa nikmatnya waktu luang. &#8220;Kenapa ketika punya waktu luang saya  tidak menggunakannya untuk melakukan kebaikan?&#8221; Penyesalan selalu datang  kemudian.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kemudian beliau  radhiyallahu &#8216;anhu juga menyatakan, &#8220;Dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum  datang waktu sakitmu&#8221; yakni bersegeralah beramal shalih ketika sehat sebelum  datangnya masa sakit. Karena seseorang ketika dalam keadaan sehat maka mudah  baginya untuk beramal shalih, dikarenakan dia dalam keadaan sehat, dadanya  lapang, dan jiwanya dalam keadaan senang. Sedangkan orang yang sakit dadanya  sempit dan jiwanya dalam keadaan tidak gembira sehingga tidak mudah baginya  untuk beramal.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Hal ini pun  sebagai anjuran dari beliau untuk menjaga dan mempergunakan waktu sehat dengan  sebaik-baiknya serta beramal dengan sungguh-sungguh padanya. Dikarenakan  khawatir dia akan mendapatkan sesuatu yang akan menghalanginya untuk  beramal.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Pergunakan Umurmu  dengan Sebaik-baiknya!</span></span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Dan  pergunakanlah waktu hidupmu sebelum datang kematianmu&#8221; yakni bersegeralah  pergunakan waktu hidupmu selama engkau masih hidup (untuk beramal shalih)  sebelum engkau mati. Sebagai peringatan untuk menjaga dan mempergunakan masa  hidup dengan sebaik- baiknya. Karena sesungguhnya seseorang apabila mati maka  terputuslah amalnya. Telah shahih hal ini dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam di mana beliau bersabda, &#8220;Apabila seseorang meninggal dunia maka  terputuslah darinya amalnya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang  dimanfaatkan, atau anak shalih yang mendo&#8217;akannya.&#8221; (HR. Muslim dari Abu  Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Demikian juga  akan hilanglah angan-angannya dan muncullah penyesalannya yang besar karena  keteledorannya dalam menjaga umurnya.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan ketahuilah  bahwa kelak akan datang kepadanya suatu waktu yang panjang. Yakni tatkala dia  berada di bawah tanah di mana dia tidak mampu lagi untuk beramal dan tidak  memungkinkan pula baginya untuk berdzikir kepada Allah &#8216;Azza wa Jalla. Maka  hendaknya bersegera beramal selagi masih hidup.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Sungguh alangkah  luas dan tingginya pengertian hadits ini yang mengandung berbagai macam  kebaikan.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Jangan Panjang  Angan-angan!</span></span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Sebagian &#8216;ulama  menyatakan, &#8220;Allah Ta&#8217;ala mencela panjang angan-angan di dalam  firman-Nya,</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">ذَرْهُمْ  يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ  يَعْلَمُونَ</span></span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Biarkanlah  mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan  (kosong). Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).&#8221;  (Al-Hijr:3)&#8221;</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">&#8216;Ali bin Abi  Thalib radhiyallahu &#8216;anhu berkata,</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">اِرْتَحَلَتِ  الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتِ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ  مِنْهُمَا بَنُوْنَ، فَكُوْنُوْا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلاَ تَكُوْنُوْا مِنْ  أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابٌ، وَغَدًا حِسَابٌ  وَلاَ عَمَلٌ</span></span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Dunia berjalan  meninggalkan manusia sedangkan akhirat berjalan menjemput manusia, dan  masing-masing memiliki generasi. Maka jadilah kalian generasi akhirat dan  janganlah kalian menjadi generasi dunia. Karena hari ini (di dunia) yang ada  hanyalah amal dan belum dihisab sedangkan besok (di akhirat) yang ada adalah  hisab dan tidak ada lagi amal.&#8221;</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Anas bin Malik  radhiyallahu &#8216;anhu berkata, &#8220;Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam membuat  garis-garis lalu bersabda, &#8220;Ini adalah manusia, ini angan-angannya dan ini  adalah ajalnya. Maka tatkala manusia berjalan menuju angan-angannya tiba-tiba  sampailah dia ke garis yang lebih dekat dengannya (daripada angan-angannya  �pent).&#8221; Yakni ajalnya yang melingkupinya. (HR. Al- Bukhariy  no.6418)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Inilah peringatan  dari beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam agar memendekkan angan-angan dan  merasakan dekatnya ajal dan takut kalau ajal datang kepadanya dengan tiba-tiba.  Barangsiapa yang tidak mengetahui ajalnya (dan semua orang tentunya tidak tahu  kapan ajalnya datang �pent.) maka dia layak untuk berjaga-jaga akan  kedatangannya dan menunggunya karena khawatir jika ajal mendatanginya disaat dia  terpedaya dan lengah.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Maka seorang  mukmin hendaklah dia senantiasa menjaga dirinya dengan mempergunakan umurnya  sebaik-baiknya dan menentang angan-angan maupun hawa nafsunya karena manusia  sering terpedaya oleh angan-angannya.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">&#8216;Abdullah bin  &#8216;Umar berkata, &#8220;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melewati kami yang  sedang memperbaiki gubuk kami. Lalu beliau bertanya, &#8220;Apa ini?&#8221; Kami menjawab,  &#8220;Gubuk ini telah rusak/reyot, kami sedang memperbaikinya.&#8221; Maka beliau pun  bersabda, &#8220;Tidaklah aku melihat urusan ini (dunia) melainkan lebih cepat dari  gubuk ini.&#8221; (HR. At-Tirmidziy no.2335)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kita memohon  kepada Allah Yang Maha Agung agar mengasihi kita dan menjadikan kita termasuk  orang-orang yang zuhud terhadap dunia, aamiin. Wallaahu  A&#8217;lam.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Maraaji&#8217;: Syarh  Riyaadhish Shaalihiin 2/193-194, Maktabah Ash-Shafaa, Al-Qawaa&#8217;id wa Fawaa`id  minal Arba&#8217;iin An-Nawawiyyah hal.351, Syarh Al-Arba&#8217;iin Hadiitsan An-Nawawiyyah  hal.104-107, At-Ta&#8217;liiqaat &#8216;alal Arba&#8217;iin An-Nawawiyyah  hal.107-108.</span></span></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafsalafy.wordpress.com/834/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafsalafy.wordpress.com/834/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafsalafy.wordpress.com/834/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafsalafy.wordpress.com/834/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafsalafy.wordpress.com/834/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafsalafy.wordpress.com/834/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafsalafy.wordpress.com/834/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafsalafy.wordpress.com/834/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafsalafy.wordpress.com/834/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafsalafy.wordpress.com/834/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafsalafy.wordpress.com/834/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafsalafy.wordpress.com/834/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafsalafy.wordpress.com/834/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafsalafy.wordpress.com/834/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafsalafy.wordpress.com&amp;blog=7689201&amp;post=834&amp;subd=salafsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/12/hakikat-hidup-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/59a1a5f92930558279e8b3dbad7cb74c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">generasighuroba</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kaum Muslimin Diciptakan Penuh Dengan Cobaan</title>
		<link>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/11/kaum-muslimin-diciptakan-penuh-dengan-cobaan/</link>
		<comments>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/11/kaum-muslimin-diciptakan-penuh-dengan-cobaan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 May 2009 13:17:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>generasighuroba</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mabhats]]></category>
		<category><![CDATA[ahlussunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[cobaan]]></category>
		<category><![CDATA[Ghuroba]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj salaf]]></category>
		<category><![CDATA[muslimin]]></category>
		<category><![CDATA[salaf]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>
		<category><![CDATA[sunni]]></category>
		<category><![CDATA[sunny]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assahab.wordpress.com/?p=831</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halaby Terdapat riwayat yang shahih bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda : &#8220;Artinya : Sesunguhnya seorang mukmin tercipta dalam keadaan Mufattan (penuh cobaan), Tawwab (senang bertaubat), dan Nassaa&#8217; (suka lupa), (tetapi) apabila diingatkan ia segera ingat&#8221;. [Silsilah Hadits Shahih No. 2276]. Hadist ini merupakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafsalafy.wordpress.com&amp;blog=7689201&amp;post=831&amp;subd=salafsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span><strong>Oleh<br />
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid  Al-Halaby<br />
</strong><br />
</span><span>Terdapat riwayat  yang shahih bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda  :<br />
&#8220;Artinya : Sesunguhnya seorang mukmin tercipta dalam keadaan Mufattan  (penuh cobaan), Tawwab (senang bertaubat), dan Nassaa&#8217; (suka lupa), (tetapi)  apabila diingatkan ia segera ingat&#8221;. [Silsilah Hadits Shahih No.  2276].</span></p>
<p>Hadist ini merupakan hadits yang menjelaskan sifat-sifat orang  mukmin, sifat-sifat yang senantiasa lengket dan menyatu dengan diri mereka,  tiada pernah lepas hingga seolah-olah pakaian yang selalu menempel pada tubuh  mereka dan tidak pernah terjauhkan dari mereka.<br />
<span id="more-831"></span><br />
Mufattan<br />
Artinya :  &#8220;Orang yang diuji (diberi cobaan) dan banyak ditimpa fitnah. Maksudnya : (orang  mukmin) adalah orang yang waktu demi waktu selalu diuji oleh Allah dengan balaa&#8217;  (bencana) dan dosa-dosa&#8221;. [Faid-Qadir 5/491].</p>
<p>Dalam hal ini fitnah  (cobaan) itu akan meningkatkan keimanannya, memperkuat keyakinannya dan akan  mendorong semangatnya untuk terus menerus berhubungan dengan Allah Subhanahu wa  Ta&#8217;ala, sebab dengan kelemahan dirinya, ia menjadi tahu betapa Maha Kuat dan  Maha Perkasanya Allah, Rabb-nya.</p>
<p>Menurut sebuah riwayat dalam shahih  Bukhari dan shahih Muslim, sesungguhnya Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam  bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya : Perumpamaan orang mukmin ibarat sebatang pokok yang  lentur diombang-ambing angin, kadang hembusan angin merobohkannya, dan  kadang-kadang meluruskannya kembali. Demikianlah keadaannya sampai ajalnya  datang. Sedangkan perumpamaan seorang munafik, ibarat sebatang pokok yang kaku,  tidak bergeming oleh terpaan apapun hingga (ketika) tumbang, (tumbangnya)  sekaligus&#8221;. [Bukhari : Kitab Al-Mardha, Bab I, Hadist No. 5643, Muslim No. 7023,  7024, 7025, 7026, 7027].</p>
<p>Ya, demikianlah sifat seorang mukmin dengan  keimanannya yang benar, dengan tauhidnya yang bersih dan dengan sikap iltizam  (komitment)nya yang sungguh-sungguh.</p>
<p>Tawaab Nasiyy<br />
Artinya : &#8220;Orang  yang bertaubat kemudian lupa, kemudian ingat, kemudian bertaubat&#8221;. [Faid-Al  Qadir 5/491].</p>
<p>Seorang mukmin dengan taubatnya, berarti telah mewujudkan  makna salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, yaitu sifat yang terkandung  dalam nama-Nya : Al-Ghaffar (Dzat yang Maha Pengampun). Allah Subhanahu wa  Ta&#8217;ala berfirman.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi  orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, kemudian tetap di jalan  yang benar&#8221;. [Thaha : 82].</p>
<p>Apabila Diingatkan, Ia Segera  Ingat.</p>
<p>Artinya : &#8220;Bila diingatkan tentang ketaatan, ia segera bergegas  melompat kepadanya, bila diingatkan tentang kemaksiatan, ia segera bertaubat  daripadanya, bila diingatkan tentang kebenaran, ia segera melaksanakannya, dan  bila diingatkan tentang kesalahan ia segera menjauhi dan  meninggalkannya&#8221;.</p>
<p>Ia tidak sombong, tidak besar kepala, tidak congkak dan  tidak tinggi hati, tetapi ia rendah hati kepada saudara-saudaranya, lemah lembut  kepada sahabat-sahabatnya dan ramah tamah kepada teman-temannya, sebab ia tahu  inilah jalan Ahlul Haq (pengikut kebenaran) dan jalannya kaum mukminin yang  shalihin.</p>
<p>Terhadap dirinya sendiri ia berbatin jujur serta berpenampilan  luhur, sedangkan terhadap orang lain ia berperasaan lembut dan berahlak mulia,  bersuri tauladan kepada insan teladan paling sempurna yaitu Rasulullah  Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, yang telah diberi wasiat oleh Rabb-nya dengan  firman-Nya :</p>
<p>&#8220;Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu  berlaku lemah lembut terhadap mereka &#8230;..&#8221;. [Ali Imran : 159]</p>
<p>Inilah  sifat seorang mukmin. Ini pula jalan hidup serta manhaj  perilakunya.</p>
<p>[Disalin dari Majalah Al-Ashalah edisi 15, 16 th III -15  Dzul Qa'dah 1415H, dan dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 07/th III/1419-1998]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafsalafy.wordpress.com/831/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafsalafy.wordpress.com/831/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafsalafy.wordpress.com/831/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafsalafy.wordpress.com/831/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafsalafy.wordpress.com/831/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafsalafy.wordpress.com/831/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafsalafy.wordpress.com/831/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafsalafy.wordpress.com/831/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafsalafy.wordpress.com/831/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafsalafy.wordpress.com/831/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafsalafy.wordpress.com/831/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafsalafy.wordpress.com/831/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafsalafy.wordpress.com/831/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafsalafy.wordpress.com/831/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafsalafy.wordpress.com&amp;blog=7689201&amp;post=831&amp;subd=salafsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/11/kaum-muslimin-diciptakan-penuh-dengan-cobaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/59a1a5f92930558279e8b3dbad7cb74c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">generasighuroba</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hakikat Dakwah Salafy</title>
		<link>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/10/hakikat-dakwah-salafy/</link>
		<comments>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/10/hakikat-dakwah-salafy/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 May 2009 06:20:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>generasighuroba</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[ahlussunnah]]></category>
		<category><![CDATA[artikel salafy]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj salaf]]></category>
		<category><![CDATA[salaf]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafsalafy.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Al Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain Pertanyaan : Berkembangnya dakwah Salafiyah dikalangan masyarakat dengan pembinaan yang mengarah kepada perbaikan ummat di bawah tuntunan Rasulullah shollallahu &#8216;alahi wa alihi wa sallam adalah suatu hal yang sangat disyukuri. Akan tetapi di sisi lain, orang-orang menyimpan dalam benak mereka persepsi yang berbeda-beda tentang pengertian Salafiyah itu sendiri sehingga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafsalafy.wordpress.com&amp;blog=7689201&amp;post=11&amp;subd=salafsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Penulis: Al  Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain</span></span></strong></p>
<p><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Pertanyaan  :</span></span></strong></p>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkembangnya  dakwah Salafiyah dikalangan masyarakat dengan pembinaan yang mengarah kepada  perbaikan ummat di bawah tuntunan Rasulullah shollallahu &#8216;alahi wa alihi wa  sallam adalah suatu hal yang sangat disyukuri. Akan tetapi di sisi lain,  orang-orang menyimpan dalam benak mereka persepsi yang berbeda-beda tentang  pengertian Salafiyah itu sendiri sehingga bisa menimbulkan kebingunan bagi  orang-orang yang mengamatinya, maka untuk itu dibutuhkan penjelasan yang jelas  tentang hakikat Salafiyah itu. Mohon keterangannya !</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><span id="more-11"></span><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Jawab  :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Salafiyah adalah  salah satu penamaan lain dari Ahlussunnah Wal Jama’ah yang menunjukkan ciri dan  kriteria mereka.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Salafiyah adalah  pensifatan yang diambil dari kata سَلَفٌ (Salaf) yang berarti mengikuti jejak,  manhaj dan jalan Salaf. Dikenal juga dengan nama سَلَفِيُّوْنَ (Salafiyyun).  Yaitu bentuk jamak dari kata Salafy yang berarti orang yang mengikuti Salaf. Dan  juga kadang kita dengar penyebutan para &#8216;ulama Salaf dengan nama As-Salaf  Ash-Sholeh (pendahulu yang sholeh).</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dari keterangan  di atas secara global sudah bisa dipahami apa yang dimaksud dengan Salafiyah.  Tapi kami akan menjelaskan tentang makna Salaf menurut para &#8216;ulama dengan  harapan bisa mengikis anggapan/penafsiran bahwa dakwah Salafiyah adalah suatu  organisasi, kelompok, aliran baru dan sangkaan-sangkaan lain yang salah dan  menodai kesucian dakwah yang dibawa oleh Rasulullah shollallahu &#8216;alahi wa alihi  wa sallam ini.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kata Salaf ini  mempunyai dua definisi ; dari sisi bahasa dan dari sisi  istilah.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Definisi Salaf  secara bahasa</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata Ibnu  Manzhur dalam Lisanul &#8216;Arab : “Dan As-Salaf juga adalah orang-orang yang  mendahului kamu dari ayah-ayahmu dan kerabatmu yang mereka itu di atas kamu dari  sisi umur dan keutamaan karena itulah generasi pertama dikalangan tabi&#8217;in mereka  dinamakan As-Salaf Ash-Sholeh”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata  Al-Manawi dalam At-Ta&#8217;arif jilid 2 hal.412 : “As-Salaf bermakna At-Taqoddum  (yang terdahulu). Jamak dari salaf adalah أََسْلاَفٌ  (aslaf)”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Masih banyak  rujukan lain tentang makna salaf dari sisi bahasa yang ini dapat dilihat dalam  Mauqif Ibnu Taimiyyah minal &#8216;asya&#8217;irah jilid 1 hal.21.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Jadi arti Salaf  secara bahasa adalah yang terdahulu, yang awal dan yang pertama. Mereka  dinamakan Salaf karena mereka adalah generasi pertama dari ummat  Islam.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Definisi Salaf  secara Istilah</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Istilah Salaf  dikalangan para &#8216;ulama mempunyai dua makna ; secara khusus dan secara  umum.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Pertama : Makna  Salaf secara khusus adalah generasi permulaan ummat Islam dari kalangan para  shahabat, Tabi&#8217;in (murid-murid para Shahabat), Tabi&#8217;ut Tabi&#8217;in (murid-murid para  Tabi’in) dalam tiga masa yang mendapatkan kemulian dan keutamaan dalam hadits  mutawatir yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary, Muslim dan lain-lainnya dimana  Rasulullah shollallahu &#8216;alahi wa alihi wa sallam menyatakan  :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">خَيْرُ النَّاسِ  قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ  يَلُوْنَهُمْ</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Sebaik-baik  manusia adalah generasiku kemudian generasi setelahnya kemudian generasi  setelahnya”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Makna khusus  inilah yang diinginkan oleh banyak ‘ulama ketika menggunakan kalimat Salaf dan  saya akan menyebutkan beberapa contoh dari perkataan para &#8216;ulama yang  mendefinisikan Salaf dengan makna khusus ini atau yang menggunakan istilah Salaf  dan mereka inginkan dengannya makna Salaf secara khusus.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata Al-Bajury  dalam Syarah Jauharut Tauhid hal.111 : “Yang dimaksud dengan salaf adalah  orang-orang yang terdahulu dari para Nabi dan para shahabat dan orang-orang yang  mengikuti mereka”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata  Al-Qolasyany dalam Tahrirul Maqolah Syarah Ar-Risalah : “As-Salaf Ash-Sholeh  yaitu generasi pertama yang mapan di atas ilmu, yang mengikuti petunjuk Nabi  shollahu &#8216;alahi wa alihi wa sallam lagi menjaga sunnah-sunnah beilau. Allah  memilih mereka untuk bershahabat dengan Nabi-Nya dan memilih mereka untuk  menegakkan agama-Nya dan mereka itulah yang diridhoi oleh para Imam ummat  (Islam) dan mereka berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad dan mereka  mencurahkan (seluruh kemampuan mereka) dalam menasehati ummat dan memberi  manfaat kepada mereka dan mereka menyerahkan diri-diri mereka dalam menggapai  keridhoan Allah”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan berkata  Al-Ghazaly memberikan pengertian terhadap kata As-Salaf dalam Iljamul &#8216;Awwam ‘An  ‘ilmil Kalam hal.62 : “Yang saya maksudkan dengan salaf adalah madzhabnya para  shahabat dan Tabi&#8217;in”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Lihat Limadza  Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy hal.31 dan Bashoir Dzawisy Syaraf Bimarwiyati  Manhaj As-Salaf hal.18-19.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata Abul  Hasan Al-Asy&#8217;ary dalam Kitab Al-Ibanah Min Ushul Ahlid Diyanah hal.21 : “Dan  (diantara yang) kami yakini sebagai agama adalah mencintai para ‘ulama salaf  yang mereka itu telah dipilih oleh Allah ‘Azza Wa Jalla untuk bershahabat dengan  Nabi-Nya dan kami memuji mereka sebagaimana Allah memuji mereka dan kami  memberikan loyalitas kepada mereka seluruhnya”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata  Ath-Thohawy dalam Al-‘Aqidah Ath-Thohawiyah : “Dan ulama salaf dari generasi  yang terdahulu dan generasi yang setelah mereka dari kalangan Tabi&#8217;in (mereka  adalah) Ahlul Khair (ahli kebaikan) dan Ahli Atsar (hadits) dan ahli fiqh dan  telaah (peneliti), tidaklah mereka disebut melainkan dengan kebaikan dan siapa  yang menyebut mereka dengan kejelekan maka dia berada di atas selain jalan (yang  benar)”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan Al-Lalika`i  dalam Syarah Ushul I&#8217;tiqod Ahlis Sunnah Wal Jama&#8217;ah jilid 2 hal.334 ketika  beliau membantah orang yang mengatakan bahwa Al-Quro dialah yang berada  dilangit, beliau berkata : “Maka dia telah menyelisihi Allah dan Rasul-Nya dan  menolak mukjizat Nabi-Nya dan menyelisihi para salaf dari kalangan Shahabat dan  tabi&#8217;in dan orang-orang setelahnya dari para ‘ulama ummat  ini&#8221;.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata  Al-Baihaqy dalam Syu&#8217;abul Iman jilid 2 hal.251 tatkala beliau menyebutkan  pembagian ilmu, beliau menyebutkan diantaranya : “Dan mengenal  perkataan-perkataan para salaf dari kalangan shahabat, Tabi&#8217;in dan orang-orang  setelah mereka”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan berkata  Asy-Syihristany dalam Al-Milal Wa An-Nihal jilid 1 hal.200 : &#8220;Kemudian  mengetahui letak-letak ijma&#8217; (kesepakatan) shahabat, Tabi&#8217;in dan Tabi&#8217;ut Tabi&#8217;in  dari Salafus Sholeh sehingga ijtihadnya tidak menyelisihi ijma&#8217;  (mereka)&#8221;.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata Syaikhul  Islam Ibnu Taimiyah dalam Bayan Talbis Al-Jahmiyah jilid 1 hal.22 : &#8220;Maka tidak  ada keraguan bahwasanya kitab-kitab yang terdapat di tangan-tangan manusia  menjadi saksi bahwasanya seluruh salaf dari tiga generasi pertama mereka  menyelesihinya&#8221;.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan berkata  Al-Mubarakfury dalam Tuhfah Al-Ahwadzy jilid 9 hal.165 : &#8220;…Dan ini adalah  madzhab Salafus Sholeh dari kalangan shahabat dan Tabi&#8217;in dan selain mereka dari  para &#8216;ulama -mudah-mudahan Allah meridhoi mereka  seluruhnya-&#8221;.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan hal yang sama  dinyatakan oleh Al-’Azhim Abady dalam &#8216;Aunul Ma&#8217;bud jilid 13  hal.7.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kedua : Makna  salaf secara umum adalah tiga generasi terbaik dan orang-orang setelah tiga  generasi terbaik ini, sehingga mencakup setiap orang yang berjalan di atas jalan  dan manhaj generasi terbaik ini.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan berkata  Al-&#8217;Allamah Muhammad As-Safariny Al-Hambaly dalam Lawami’ Al-Anwar Al- Bahiyyah  Wa Sawathi&#8217; Al-Asrar Al-Atsariyyah jilid 1 hal.20 : “Yang diinginkan dengan  madzhab salaf yaitu apa-apa yang para shahabat yang mulia -mudah-mudahan Allah  meridhoi mereka- berada di atasnya dan para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan  baik dan yang mengikuti mereka dan para Imam agama yang dipersaksikan keimaman  mereka dan dikenal perannya yang sangat besar dalam agama dan manusia menerima  perkataan-perkataan mereka…”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata Ibnu Abil  &#8216;Izzi dalam Syarah Al ‘Aqidah Ath-Thohawiyah hal.196 tentang perkataan Ath-  Thohawy bahwasanya Al-Qur`an diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala : &#8220;Yakni  merupakan perkataan para shahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik dan  mereka itu adalah Salafus Sholeh&#8221;.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan berkata  Asy-Syaikh Sholeh Al-Fauzan dalam Nazharat Wa Tu&#8217;uqqubat &#8216;Ala Ma Fi Kitab As-  Salafiyah hal.21 : “Dan kata Salafiyah digunakan terhadap jama&#8217;ah kaum mukminin  yang mereka hidup di generasi pertama dari generasi-generasi Islam yang mereka  itu komitmen di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa  alihi wa sallam dari kalangan shahabat Muhajirin dan Anshor dan yang mengikuti  mereka dengan baik dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam  mensifati mereka dengan sabdanya : &#8220;Sebaik-baik manusia adalah zamanku kemudian  zaman setelahnya kemudian zaman setelahnya&#8230;.&#8221;.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan beliau juga  berkata dalam Al-Ajwibah Al-Mufidah &#8216;An As`ilah Al-Manahij Al-Jadidah hal.103-  104 : &#8220;As-Salafiyah adalah orang-orang yang berjalan di atas Manhaj Salaf dari  kalangan Shahabat dan tabi&#8217;in dan generasi terbaik, yang mereka mengikutinya  dalam hal aqidah, manhaj, dan metode dakwah&#8221;.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan berkata  Syaikh Nashir bin ‘Abdil Karim Al-‘Aql dalam Mujmal Ushul I&#8217;tiqod Ahlus Sunnah  Wal Jama&#8217;ah hal.5 : &#8220;As-Salaf, mereka adalah generasi pertama ummat ini dari  para shahabat, tabi&#8217;in dan imam-imam yang berada di atas petunjuk dalam tiga  generasi terbaik pertama. Dan kalimat As-Salaf juga digunakan kepada setiap  orang yang berada pada setelah tiga generasi pertama ini yang meniti dan  berjalan di atas manhaj mereka&#8221;.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Asal Penamaan  Salaf Dan Penisbahan Diri Kepada Manhaj Salaf</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Asal penamaan  Salaf dan penisbahan diri kepada manhaj Salaf adalah sabda Nabi shollallahu  ‘alaihi wa alihi wa sallam kepada putrinya Fathimah radihyallahu ‘anha  :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">فَإِنَّهُ نِعْمَ  السَّلَفُ أَنَا لَكِ</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Karena  sesungguhnya sebaik-baik salaf bagi kamu adalah saya&#8221;. Dikeluarkan oleh Bukhary  no.5928 dan Muslim no.2450.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Maka jelaslah  bahwa penamaaan salaf dan penisbahan diri kepada manhaj Salaf adalah perkara  yang mempunyai landasan (pondasi) yang sangat kuat dan sesuatu yang telah lama  dikenal tapi karena kebodohan dan jauhnya kita dari tuntunan syari’at yang  dibawa oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, maka muncullah  anggapan bahwa manhaj salaf itu adalah suatu aliran, ajaran, atau pemahaman  baru, dan anggapan-anggapan lainnya yang salah.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata Syaikhul  Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa jilid 4 hal 149 : “Tidak ada celaan bagi  orang yang menampakkan madzhab salaf dan menisbahkan diri kepadanya dan merujuk  kepadanya, bahkan wajib menerima hal tersebut menurut kesepakatan (para ulama).  Karena sesungguhnya madzhab salaf itu adalah tak lain kecuali  kebenaran”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berikut ini saya  akan memberikan beberapa contoh untuk menunjukkan bahwa penggunaan nama salaf  sudah lama dikenal.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata Imam  Az-Zuhry (wafat 125 H) tentang tulang belulang bangkai seperti bangkai gajah dan  lainnya : “Saya telah mendapati sekelompok dari para ulama salaf mereka bersisir  dengannya dan mengambil minyak darinya, mereka menganggap (hal tersebut) tidak  apa-apa”. Lihat : Shohih Bukhary bersama Fathul Bary jilid 1  hal.342.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Tentunya yang  diinginkan dengan ‘ulama salaf oleh Az-Zuhry adalah para shahabat karena Az-  Zuhry adalah seorang Tabi’i (generasi setelah shahabat).</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan Sa’ad bin  Rasyid (wafat 213 H) berkata : “Adalah para salaf, lebih menyenangi tunggangan  jantan karena lebih cepat larinya dan lebih berani”. Lihat : Shohih Bukhary  dengan Fathul Bary jilid 6 hal.66 dan Al-Hafizh menafsirkan kata salaf : “Yaitu  dari shahabat dan setelahnya”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata Imam  Bukhary (wafat 256 H) dalam Shohihnya dengan Fathul Bary jilid 9 hal.552 : “Bab  bagaimana para ‘ulama salaf berhemat di rumah-rumah mereka dan di dalam  perjalanan mereka dalam makanan, daging dan lainnya”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Imam Ibnul  Mubarak (wafat 181 H) berkata : “Tinggalkanlah hadits ‘Amr bin Tsabit karena ia  mencerca para ‘ulama salaf”. Baca : Muqoddimah Shohih Muslim jilid 1  hal.16.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Tentunya yang  diinginkan dengan kata salaf oleh Imam Bukhary dan Ibnul Mubarak tiada lain  kecuali para shahabat dan tabi’in.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan juga kalau  kita membaca buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan nasab, akan didapatkan  para ’ulama yang menyebutkan tentang nisbah Salafy (penisbahan diri kepada jalan  para ‘ulama salaf), dan ini lebih memperjelas bahwa nisbah kepada manhaj salaf  juga adalah sesuatu yang sudah lama dikenal dikalangan para  ‘ulama.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata  As-Sam&#8217;any dalam Al-Ansab jilid 3 hal.273 : &#8220;Salafy dengan difathah (huruf  sin-nya) adalah nisbah kepada As-Salaf dan mengikuti madzhab  mereka&#8221;.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan berkata  As-Suyuthy dalam Lubbul Lubab jilid 2 hal.22 : &#8220;Salafy dengan difathah (huruf  sin dan lam-nya) adalah penyandaran diri kepada madzhab  As-Salaf&#8221;.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan saya akan  menyebutkan beberapa contoh para ‘ulama yang dinisbahkan kepada manhaj (jalan)  para ‘ulama salaf untuk menunjukkan bahwa mereka berada diatas jalan yang lurus  yang bersih dari noda penyimpangan :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">1. Berkata Imam  Adz-Dzahaby dalam Siyar A’lam An-Nubala` jilid 13 hal.183 setelah menyebutkan  hikayat bahwa Ya&#8217;qub bin Sufyan Al-Fasawy rahimahullah menghina ‘Utsman bin  &#8216;Affan radhiyallahu ‘anhu : “Kisah ini terputus, Wallahu A’lam. Dan saya tidak  mengetahui Ya&#8217;qub Al-Fasawy kecuali beliau itu adalah seorang Salafy, dan beliau  telah mengarang sebuah kitab kecil tentang As-Sunnah”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">2. Dan dalam  biografi ‘Utsman bin Jarzad beliau berkata : “Untuk menjadi seorang Muhaddits  (ahli hadits) diperlukan lima perkara, kalau satu perkara tidak terpenuhi maka  itu adalah suatu kekurangan. Dia memerlukan : Aqal yang baik, agama yang baik,  dhobth (hafalan yang kuat), kecerdikan dalam bidang hadits serta dikenal darinya  sifat amanah&#8221;.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kemudian  Adz-Dzahaby mengomentari perkataan tersebut, beliau berkata : &#8220;Amanah merupakan  bagian dari agama dan hafalan bisa masuk kepada kecerdikan. Adapun yang  dibutuhkan oleh seorang hafizh (penghafal hadits) adalah : Dia harus seorang  yang bertaqwa, pintar, ahli nahwu dan bahasa, bersih hatinya, senantiasa  bersemangat, seorang salafy, cukup bagi dia menulis dengan tangannya sendiri 200  jilid buku hadits dan memiliki 500 jilid buku yang dijadikan pegangan dan tidak  putus semangat dalam menuntut ilmu sampai dia meninggal dengan niat yang ikhlas  dan dengan sikap rendah diri. Kalau tidak memenuhi syarat-syarat ini maka  janganlah kamu berharap”. Lihat dalam Siyar A’lam An-Nubala` jilid 13  hal.280.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">3. Dan  Adz-Dzahaby berkata tentang Imam Ad-Daraquthny : “Beliau adalah orang yang tidak  akan pernah ikut serta mempelajari ilmu kalam (ilmu mantik) dan tidak pula ilmu  jidal (ilmu debat) dan beliau tidak pernah mendalami ilmu tersebut, bahkan  beliau adalah seorang salafy&#8221;. Baca Siyar A’lam An-Nubala`jilid 16  hal.457.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">4. Dan dalam  Tadzkirah Al-Huffazh jilid 4 hal.1431 dalam biografi Ibnu Ash-Sholah, berkata  Imam Adz-Dzahaby : “Dan beliau adalah seorang Salafy yang baik aqidahnya&#8221;. Dan  lihat : Thobaqot Al- Huffazh jilid 2 hal.503 dan Siyar A’lam An-Nubala` jilid 23  hal.142.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">5. Dalam biografi  Imam Abul ‘Abbas Ahmad bin ‘Isa bin ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah  Al-Maqdasy, Imam Adz-Dzahaby berkata : “Beliau adalah seorang yang terpercaya,  tsabt (kuat hafalannya), pandai, seorang Salafy…&#8221;. Baca Siyar A’lam An-Nubala`  jilid 23 hal.18.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">6. Dan dalam  Biografi Abul Muzhoffar Ibnu Hubairah, Imam Adz-Dzahaby berkata : “Dia adalah  seorang yang mengetahui madzhab dan bahasa arab dan ilmu &#8216;arudh, seorang salafy,  atsary&#8221;. Baca Siyar A’lam An-Nubala` jilid 20 hal.426.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">7. Berkata Imam  Adz-Dzahaby dalam biografi Imam Az-Zabidy : “Dia adalah seorang Hanafy, Salafy&#8221;.  Baca Siyar A’lam An-Nubala`jilid 20 hal.316.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">8. Dan dalam  Biografi Musa bin Ibrahim Al-Ba&#8217;labakky, Imam Adz-Dzahaby berkata : “Dan  demikian pula beliau seorang perendah hati, seorang Salafy”. Lihat : Mu&#8217;jamul  Muhadditsin hal.283.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">9. Dan dalam  biografi Muhammad bin Muhammad Al-Bahrony, Imam Adz-Dzahaby Berkata : &#8220;Dia  seorang yang beragama, orang yang sangat baik, seorang Salafy”. Lihat : Mu&#8217;jam  Asy-Syuyukh jilid 2 hal.280 (dinukil dari Al-Ajwibah Al-Mufidah  hal.18).</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">10. Berkata  Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolany dalam Lisanul Mizan Jilid 5 hal.348 dalam  biografi Muhammad bin Qasim bin Sufyan Abu Ishaq : &#8220;Dan Ia adalah Seorang yang  bermadzhab Salafy”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Penamaan-Penamaan  Lain Ahlus Sunnah Wal Jama’ah</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Sebelum terjadi  fitnah bid&#8217;ah perpecahan dan perselisihan dalam ummat ini, ummat Islam tidak  dikenal kecuali dengan nama Islam dan kaum muslimin, kemudian setelah terjadinya  perpecahan dan munculnya golongan-golongan sesat yang mana setiap golongan  menyerukan dan mempropagandakan bid&#8217;ah dan kesesatannya dengan menampilkan  bid&#8217;ah dan kesesatan mereka di atas nama Islam, maka tentunya hal tersebut akan  melahirkan kebingungan ditengah- tengah ummat. Akan tetapi Allah Maha Bijaksana  dan Maha Menjaga agama-Nya. Dialah Allah yang berfirman :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">إِنَّا نَحْنُ  نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Sesungguhnya  Kami-lah yang menurunkan Adz-Dikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar  menjaganya”. (Q.S. Al Hijr ayat 9).</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan Rasulullah  shollallahu &#8216;alaihi wa alihi wa sallam bersabda :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">لاَ تَزَالُ  طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ  خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Terus menerus  ada sekelompok dari ummatku yang mereka tetap nampak di atas kebenaran, tidak  membahayakan mereka orang mencerca mereka sampai datang ketentuan Allah (hari  kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti itu”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Maka para ‘ulama  salaf waktu itu yang merupakan orang-orang yang berada di atas kebenaran dan  yang paling memahami aqidah yang benar dan tuntunan syari&#8217;at Islam yang dibawa  oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam yang murni yang belum  ternodai oleh kotoran bid&#8217;ah dan kesesatan, mulailah mereka menampakkan  penamaan-penamaan syari’at diambil dari Islam guna membedakan pengikut kebenaran  dari golongan-golongan sesat tersebut.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata Imam  Muhammad bin Sirin rahimahullah :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">لَمْ يَكُوْنُوْا  يَسْأَلُوْنَ عَنِ الْإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوْا سَمّوْا  لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ  وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ  حَدِيْثُهُمْ</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Tidaklah mereka  (para ‘ulama) bertanya tentang isnad (silsilah rawi). Tatkala terjadi fitnah  mereka pun berkata : “Sebutkanlah kepada kami rawi-rawi kalian maka dilihatlah  kepada Ahlus Sunnah lalu diambil hadits mereka dan dilihat kepada Ahlil bid’ah  dan tidak diambil hadits mereka””.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Maka Ahlus Sunnah  Wal Jama’ah selain dikenal sebagai Salafiyah, mereka juga mempunyai penamaan  lain yang menunjukkan ciri dan kriteria mereka.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berikut ini kami  akan mencoba menguraikan penamaan-penamaan tersebut dengan  ringkas.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">1. AL-FIRQOH  AN-NAJIYAH</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Al-Firqoh  An-Najiyah artinya golongan yang selamat. Penamaan ini diambil dari apa yang  dipahami dari hadits perpecahan ummat, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi  wa sallam menyatakan :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">افْتَرَقَتِ  الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى  ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثِ  وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ  وَ فِيْ رِوَايَةٍ : مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيِوْمَ  وَأَصْحَابِيْ.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Telah terpecah  orang–orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu firqoh (golongan) dan telah terpecah  orang-orang Nashoro menjadi tujuh puluh dua firqoh dan sesungguhnya ummatku akan  terpecah menjadi tujuh puluh tiga firqoh semuanya dalam neraka kecuali satu dan  ia adalah Al- Jama’ah dalam satu riwayat : “Apa yang aku dan para shahabatku  berada di atasnya sekarang ini”. Hadits shohih, dishohihkan oleh Syaikh  Al-Albany dalam Dzilalil Jannah dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad  Mimma Laisa Fi Ash-Shohihain rahimahumullah.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata Syaikhul  Islam Ibnu Taimiyah dalam Minhaj As-sunnah jilid 3 hal.345 : “Maka apabila sifat  Al-Firqoh An-Najiyah mengikuti para shahabat di masa Rasulullah shollallahu  ‘alaihi wa alihi wa sallam dan itu adalah syi&#8217;ar (ciri, simbol) Ahlus Sunnah  maka Al-Firqoh An-Najiyah mereka adalah Ahlus Sunnah”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan beliau juga  menyatakan dalam Majmu&#8217; Al Fatawa jilid 3 hal.345 : “Karena itu beliau  (Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam) menyifati Al-Firqoh  An-Najiyah bahwa ia adalah Ahlus Sunnah Wal Jama&#8217;ah dan mereka adalah jumhur  yang paling banyak dan As-Sawad Al- A’zhom (kelompok yang paling  besar)”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata Syaikh  Hafizh Al-Hakamy : “Telah dikabarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa  alihi wa sallam -yang selalu benar dan dibenarkan- bahwa Al-Firqoh An-Najiyah  mereka adalah siapa yang di atas seperti apa yang beliau dan para shahabatnya  berada di atasnya, dan sifat ini hanyalah cocok bagi orang-orang yang membawa  dan menjaga sifat itu, tunduk kepadanya lagi berpegang teguh dengannya. mereka  yang saya maksud ini adalah para imam hadits dan para tokoh (pengikut) Sunnah”.  Lihat Ma&#8217;arijul Qobul jilid 1 hal.19.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Maka nampaklah  dari keterangan di atas asal penamaan Al-Firqoh An-Najiyah dari hadits  Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa alihi wa sallam.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Diringkas dari :  Mauqif Ahlus Sunnah Wal Jama&#8217;ah Min Ahli Ahwa`i Wal Bid’ah jillid 1  hal.54-59.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan Berkata  Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wad&#8217;iy rahimahullah setelah meyebutkan dua hadits  tentang perpecahan ummat : “Dua hadits ini dan hadits-hadits yang semakna  dengannya menunjukkan bahwa tidak ada yang selamat kecuali satu golongan dari  tujuh puluh tiga golongan, dan adapun golongan-golongan yang lain di Neraka,  (sehingga) mengharuskan setiap muslim mencari Al-Firqoh An-Najiyah sehingga  teratur menjalaninya dan mengambil agamanya darinya”. Lihat Riyadhul Jannah Fir  Roddi &#8216;Ala A’da`is Sunnah hal.22.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">2. ATH-THOIFAH AL  MANSHUROH</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Ath-Thoifah  Al-Manshuroh artinya kelompok yang mendapatkan pertolongan. Penamaan ini  berdasarkan hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam  :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">لاَ تَزَالُ  طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ  خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Terus menerus  ada sekelompok dari ummatku yang mereka tetap nampak di atas kebenaran, tidak  membahayakan mereka orang mencerca mereka sampai datang ketentuan Allah (hari  kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti itu”. Dikeluarkan oleh Muslim dari  hadits Tsauban dan semakna dengannya diriwayatkan oleh Bukhary dan Muslim dari  hadits Mughiroh bin Syu’bah dan Mu’awiyah dan diriwayatkan oleh Muslim dari  Jabir bin ‘Abdillah. Dan hadits ini merupakan hadits mutawatir sebagaimana yang  dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho` Ash-Shirath  Al-Mustaqim 1/69, Imam As-Suyuthy dalam Al-Azhar Al-Mutanatsirah hal.216 dan  dalam Tadrib Ar-Rawi, Al Kattany dalam Nazhom Al-Mutanatsirah hal.93 dan  Az-Zabidy dalam Laqthul `Ala`i hal.68-71. Lihat : Bashoir Dzawisy Syaraf  Bimarwiyati Manhaj As-Salaf.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata Imam  Bukhary tentang Ath-Thoifah Al-Manshuroh : “Mereka adalah para  &#8216;ulama”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata Imam  Ahmad : “Kalau mereka bukan Ahli Hadits saya tidak tahu siapa  mereka”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Al-Qodhi Iyadh  mengomentari perkataan Imam Ahmad dengan berkata : “Yang diinginkan oleh (Imam  Ahmad) adalah Ahlus Sunnah Wal Jama&#8217;ah dan siapa yang meyakini madzhab Ahlul  Hadits”. Lihat : Mauqif Ahlus Sunnah Wal Jama&#8217;ah 1/59-62.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata Syaikhul  Islam Ibnu Taimiyah dalam Muqoddimah Al ‘Aqidah Al Washitiyah : “Amma ba’du ;  Ini adalah i’tiqod (keyakinan) Al Firqoh An-Najiyah, (Ath-Thoifah) Al-Manshuroh  sampai bangkitnya hari kiamat, (mereka) Ahlus Sunnah”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan di akhir Al  ‘Aqidah Al Washitiyah ketika memberikan definisi tentang Ahlus Sunnah, beliau  berkata : “Dan mereka adalah Ath-Thoifah Al-Manshuroh yang Nabi shollallahu  ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda tentang mereka : “Terus menerus sekelompok  dari ummatku diatas kebenaran manshuroh (tertolong) tidak membahayakan mereka  orang yang menyelisihi dan mencerca mereka sampai hari kiamat” mudah-mudahan  Allah menjadikan kita bagian dari mereka dan tidak memalingkan hati-hati kita  setelah mendapatkan petunjuk”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Lihat : Bashoir  Dzawisy Syaraf Bimarwiyati Manhaj As-Salaf hal. 97-110.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">3. AHLUL  HADITS</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Ahlul Hadits  dikenal juga dengan Ashhabul hadits atau Ashhabul Atsar. Ahlul hadits artinya  orang yang mengikuti hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam.  Dan istilah Ahlul hadits ini juga merupakan salah satu nama dan kriteria  Salafiyah atau Ahlus Sunnah Wal Jama&#8217;ah atau Ath-Thoifah  Al-Manshurah.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata Ibnul  Jauzi : “Tidak ada keraguan bahwa Ahlun Naql Wal Atsar (Ahlul Hadits) yang  mengikuti jejak-jejak Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa alihi wa sallam mereka  di atas jalan yang belum terjadi bid&#8217;ah&#8221;.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata  Al-Khathib Al-Baghdady dalam Ar-Rihlah Fii Tholabil Hadits hal.223 : “Dan  sungguh (Allah) Rabbul ‘alamin telah menjadikan Ath-Thoifah Al-Manshurah sebagai  penjaga agama dan telah dipalingkan dari mereka makar orang-orang yang keras  kepala karena mereka berpegang teguh dengan syari’at (Islam) yang kokoh dan  mereka mengikuti jejak para shahabat dan tabi’in”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan telah sepakat  perkataan para ‘ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah bahwa yang dimaksud dengan  Ath-Thoifah Al-Manshurah adalah para ‘ulama Salaf Ahlul Hadits. Hal ini  ditafsirkan oleh banyak Imam seperti ‘Abdullah bin Mubarak, ‘Ali bin Madiny,  Ahmad bin Hambal, Bukhary, Al- Hakim dan lain-lainnya,. Perkataan-perkataan para  ‘ulama tersebut diuraikan dengan panjang lebar oleh Syaikh Robi’ bin Hady  Al-Madkhaly dan juga Syaikh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah  hadits no.270.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Lihat : Haqiqitul  Bid&#8217;ah 1/269-272, Mauqif Ibnu Taymiyah 1/32-34, Ahlul Hadits Wa Ath- Thoifah  Al-Manshurah An-Najiyah, Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, Bashoir Dzawisy  Syaraf Bimarwiyati Manhaj As-Salaf dan Al-Intishor Li Ashhabil Hadits karya  Muhammad ‘Umar Ba Zamul.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">4.  Al-Ghuraba`</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Al-Ghuraba`  artinya orang-orang yang asing. Asal penyifatan ini adalah sabda Rasulullah  shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah riwayat Muslim  No.145 :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">بَدَأَ  الْإِسْلاَمُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوْبَى  لِلْغُرَبَاءِ</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">“Islam mulai  muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awal munculnya  maka beruntunglah orang-orang asing itu”. Dan hadits ini adalah hadits yang  mutawatir.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata Imam  Al-Ajurry dalam Sifatil Ghuraba` Minal Mu’minin hal.25 : “Dan perkataan (Nabi)  shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam “Dan akan kembali asing” maknanya Wallahu  A’lam sesungguhnya hawa nafsu yang menyesatkan akan menjadi banyak sehingga  banyak dari manusia tersesat karenanya dan akan tetap ada Ahlul Haq yang  berjalan diatas syari’at islam dalam keadaan asing di mata manusia, tidakkah  kalian mendengar perkataan Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam : “Akan  terpecah ummatku menjadi 73 golongan semuanya masuk neraka kecuali satu, maka  dikatakan siapa mereka yang tertolong itu? maka kata Rasulullah shollallahu  ‘alaihi wa alihi wa sallam : “Apa-apa yang saya dan para shahabatku berada di  atasnya pada hari ini””.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berkata Imam Ibnu  Rajab dalam Kasyful Kurbah fi washfi hali Ahlil Ghurbah hal 22-27 : “Adapun  fitnah syubhat (kerancuan-kerancuan) dan pengikut hawa nafsu yang menyesatkan  sehingga hal tersebut menyebabkan terpecahnya Ahlul Qiblah (kaum muslimin) dan  menjadilah mereka berkelompok-kelompok, sebagian dari mereka mengkafirkan yang  lainnya dan mereka menjadi saling bermusuhan, bergolong-golongan dan  berpartai-partai setelah mereka dulunya sebagai saudara dan hati-hati mereka  diatas hati satu orang (Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam)  sehingga tidak akan selamat dari kelompok-kelompok tersebut kecuali satu  golongan yang selamat. Mereka inilah yang disebut dalam sabda Rasulullah  shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam : “Terus menerus ada diantara ummatku  satu kelompok yang menampakkan kebenaran, tidak mencelakakan mereka orang-orang  yang menghinakan dan membenci mereka sampai datang ketetapan Allah subhanahu wa  ta’ala (hari kiamat) dan mereka tetap dalam keadaan tersebut”. Mereka inilah  al-Ghuraba` di akhir zaman yang tersebut dalam hadits-hadits  ini…”.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Demikianlah  penamaan-penamaan syari’at bagi pengikut Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah  shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam sesuai dengan pemahaman para &#8216;ulama  salaf, yang apabila dipahami dengan baik akan menambah keyakinan akan wajibnya  mengikuti jalan para &#8216;ulama salaf dan kebenaran jalan mereka serta keberuntungan  orang-orang yang mengikuti jalan mereka.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Cukuplah sebagai  satu keistimewaan yang para salafiyun berbangga dengannya bahwa  penamaan-penamaan ini semuanya dari Islam dan menggambarkan Islam hakiki yang  dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan tentunya hal  ini sangat membedakan salafiyun dari ahlu bid&#8217;ah yang bernama atau dinamakan  dengan penamaan-penamaan yang hanya sekedar menampakkan bid&#8217;ah, pimpinan atau  kelompok mereka seperti Tablighy nisbah kepada Jama&#8217;ah Tabligh yang didirikan  oleh Muhammad Ilyas, Ikhwany nisbah kepada gerakan Ikhwanul Muslimin yang  dipelopori oleh Hasan Al-Banna, Surury nisbah kepada kelompok atau pemikiran  Muhammad Surur Zainal ‘Abidin, Jahmy nisbah kepada Jahm bin Sofwan pembawa  bendera bid&#8217;ah keyakinan bahwa Al-Qur`an adalah makhluk. Mu&#8217;tazily nisbah kepada  kelompok pimpinan &#8216;Atho` bin Washil yang menyendiri dari halaqah Hasan  Al-Bashry. Asy&#8217;ary nisbah kepada pemikiran Abu Hasan Al-Asy&#8217;ary yang kemudian  beliau bertobat dari pemikiran sesatnya. Syi&#8217;iy nisbah kepada kelompok Syi&#8217;ah  yang mengaku mencintai keluarga Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, dan  masih ada ratusan penamaan lain, sangat meletihkan untuk menyebutkan dan  menguraikan seluruh penamaan tersebut, maka nampaklah dengan jelas bahwa  penamaan Salafiyun-Ahlus Sunnah Wal Jama&#8217;ah-Ath-Thoifah Al-Manshurah-Al-Firqoh  An-Najiyah-Ahlul Hadits adalah sangat berbeda dengan penamaan-penamaan yang  dipakai oleh golongan- golongan yang menyimpang dari beberapa sisi  :</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Satu :  Penamaan-penamaan syari&#8217;at ini adalah nisbah kepada generasi awal ummat Islam  yang berada di atas tuntunan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam,  maka penamaan ini akan mencakup seluruh ummat pada setiap zaman yang berjalan  sesuai dengan jalan generasi awal tersebut baik dalam mengambil ilmu atau dalam  pemahaman atau dalam berdakwah dan lain- lainnya.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dua : Kandungan  dari penamaan-penamaan syari&#8217;at ini hanyalah menunjukkan tuntunan Islam yang  murni yaitu Al-Qur`an dan sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa  sallam tanpa ada penambahan atau pengurangan sedikit pun.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Tiga :  Penamaan-penamaan ini mempunyai asal dalil dari sunnah Rasulullah shollallahu  ‘alaihi wa alihi wa sallam.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Empat :  Penamaan-penamaan ini hanyalah muncul untuk membedakan antara pengikut kebenaran  dari jalan para pengekor hawa nafsu dan golongan-golongan sesat, dan sebagai  bantahan terhadap bid&#8217;ah dan kesesatan mereka.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Lima : Ikatan  wala&#8217; (loyalitas) dan baro&#8217; (kebencian, permusuhan) bagi orang-orang yang  bernama dengan penamaan ini, hanyalah ikatan wala&#8217; dan baro&#8217; di atas Islam  (Al-Qur`an dan Sunnah) bukan ikatan wala&#8217; dan baro&#8217; karena seorang tokoh,  pemimpin, kelompok, organisasi dan lain- lainnya.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Enam : Tidak ada  fanatisme bagi orang-orang yang memakai penamaan-penamaan ini kecuali kepada  Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam karena pemimpin dan panutan  mereka hanyalah satu yaitu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam,  berbeda dengan orang-orang yang menisbahkan dirinya ke penamaan-penamaan bid&#8217;ah  fanatismenya untuk golongan, kelompok / pemimpin.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Tujuh :  Penamaan-penamaan ini sama sekali tidak akan menjerumuskan ke dalam suatu  bid&#8217;ah, maksiat maupun fanatisme kepada seseorang atau kelompok dan  lain-lainnya.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Lihat : Hukmul  intima` hal 31-37 dan Mauqif Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah  1/46-47.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Wallahu Ta’ala  A’lam.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafsalafy.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafsalafy.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafsalafy.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafsalafy.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafsalafy.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafsalafy.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafsalafy.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafsalafy.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafsalafy.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafsalafy.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafsalafy.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafsalafy.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafsalafy.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafsalafy.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafsalafy.wordpress.com&amp;blog=7689201&amp;post=11&amp;subd=salafsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/10/hakikat-dakwah-salafy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/59a1a5f92930558279e8b3dbad7cb74c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">generasighuroba</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Kita Harus Memakai Nama Salafy ?</title>
		<link>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/10/mengapa-kita-harus-memakai-nama-salafy/</link>
		<comments>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/10/mengapa-kita-harus-memakai-nama-salafy/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 May 2009 05:42:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>generasighuroba</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[ahlussunnah]]></category>
		<category><![CDATA[artikel salafy]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj salaf]]></category>
		<category><![CDATA[salaf]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafsalafy.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani Rahimahullah Mengapa kita memakai nama Salafy ? apakah penamaan itu bukan termasuk ajakan kepada hizbiyah atau thaifiyah (seruan untuk berfanatik kepada kelompok tertentu) ataukah merupakan kelompok baru dalam Islam? Sesungguhnya istilah Salaf sudah dikenal dalam bahasa Arab maupun dalam syariat Islam. Namun yang kita utamakan disini adalah pembahasan nama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafsalafy.wordpress.com&amp;blog=7689201&amp;post=9&amp;subd=salafsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Penulis: Syaikh  Muhammad Nashirudin Al Albani Rahimahullah</span></span></strong></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Mengapa kita  memakai nama Salafy ? apakah penamaan itu bukan termasuk ajakan kepada hizbiyah  atau thaifiyah (seruan untuk berfanatik kepada kelompok tertentu) ataukah  merupakan kelompok baru dalam Islam? Sesungguhnya istilah Salaf sudah dikenal  dalam bahasa Arab maupun dalam syariat Islam. Namun yang kita utamakan disini  adalah pembahasan nama tersebut dari segi syariat.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><span id="more-9"></span><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dalam hadits yang  shahih disebutkan bahwa ketika Rasulullah sallallahu &#8216;alaihi wa sallam ditimpa  penyakit yang menyebabkan kematiannya, beliau berkata kepada Fathimah  Radhiallahu anha: &#8220;Bertakwalah kepada Allah (wahai Fathimah) dan bersabarlah.  Dan aku adalah sebaik-baik salaf (pendahulu) bagimu.&#8221;</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan para ulama  pun sangat sering menggunakan istilah salaf sehingga terlalu banyak untuk  dihitung. Dan cukuplah salah satu contoh yang biasa mereka gunakan sebagai  hujjah untuk memerangi bid&#8217;ah: &#8216;Segala kebaikan adalah dengan mengikuti jejak  Salaf. Dan segala kejelekan ada pada bid&#8217;ahnya kaum khalaf &#8216;. Tetapi ada  sebagian orang yang mengaku ulama (ahlul ilmi) menolak penisbatan (penyandaran)  diri kepada Salafi ini. Mereka menganggap penisbatan ini tidak ada asalnya sama  sekali! Menurut mereka, seorang muslim tidak boleh mengucapkan : &#8220;Saya pengikut  para Salafus Shalih dalam segala apa yang ada pada mereka baik dalam beraqidah,  ibadah maupun berakhlak.&#8221;</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Tidak diragukan  lagi bahwa pengingkaran seperti ini, kalau memang demikian yang mereka  maksudkan, menunjukkan adanya tindakan untuk melepaskan diri dari pemahaman  Islam yang shahih (benar) sebagaimana yang dipahami dan dijalani oleh salafus  shalih dan pemimpin mereka Rasulullah salallahu &#8216;alaihi wa  sallam.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Seperti tersebut  dalam hadits mutawatir yang terdapat dalam shahihain (Bukhari-Muslim) dan  lain-lain bahwa Rasulullah salallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Sebaik-baik  manusia adalah generasiku (para Shahabatku), kemudian yang sesudahnya (Tabi&#8217;in),  kemudian yang sesudahnya (Tabi&#8217;ut Tabi&#8217;in)&#8221;.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Oleh karena itu,  seorang muslim tidak boleh melepaskan diri dari penisbatan kepada Salafus  Shalih. Sebab tidak mungkin para ulama akan menisbatkan istilah salaf kepada  kekafiran maupun kefasikan. Sementara orang-orang yang menolak penamaan itu  sendiri, apakah mereka tidak menisbatkan dirinya kepada salah satu madzhab yang  ada? Baik madzhab yang berhubungan dengan aqidah maupun fiqih? Mereka ini  kadang-kadang ada yang menisbatkan dirinya kepada madzhab Asy&#8217;ariyah atau  Maturudiyah.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Ada pula yang  menisbatkan dirinya kepada para ahlul hadits seperti Hanafiyah, Malikiyah,  Syafi&#8217;iyah, atau Hambaliyah yang (kelima madzhab yang terakhir ini) masih  termasuk dalam lingkup Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah. Padahal orang-orang yang  menisbatkan dirinya kepada madzhab Asy&#8217;ariyah atau madzhab imam yang empat  (al-Aimmah al-Arba&#8217;ah) tidak diragukan lagi bahwa mereka itu menisbatkan diri  kepada person atau orang-orang yang tidak ma&#8217;shum (terpelihara dari kesalahan),  meskipun diantara mereka terdapat ulama yang benar.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Alangkah lebih  baik kalau sekiranya mereka mengingkari penisbatan kepada orang-orang yang tidak  ma&#8217;shum tersebut. Adapun orang yang menisbatkan diri kepada salafus shalih,  sesungguhnya dia telah menisbatkan dirinya kepada yang ma&#8217;shum (yakni Ijma&#8217; para  shahabat secara umum). Nabi salallahu &#8216;alaihi wa sallam telah menyebutkan  ciri-ciri Al-Firqah An-Najiyah (golongan yang selamat), yaitu mereka yang  senantiasa berpegang kepada sunnah Rasulullah salallahu &#8216;alaihi wa sallam dan  sunnah para Shahabatnya Ridhwanullah &#8216;alaihim &#8216;ajma&#8217;in.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Barangsiapa  berpegang teguh kepada sunnah mereka, maka dia pasti akan mendapat petunjuk dari  Rabbnya.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Penisbatan kepada  salaf ini akan memuliakan orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada mereka dan  akan menuntunnya dalam menempuh jalan Al-Firqah An-Najiyah. Sedangkan orang yang  menisbatkan dirinya kepada selain mereka, tidaklah demikian keadaannya. Karena  dalam hal ini dia hanya mempunyai dua alternatif.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Pertama, boleh  jadi dia menisbatkan diri kepada seseorang yang tidak  ma&#8217;shum.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kedua, dia  menisbatkan dirinya kepada orang-orang yang mengikuti madzab tersebut yang tentu  saja tidak ada kema&#8217;shuman sama sekali.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Sebaliknya para  shahabat Nabi salallahu &#8216;alaihi wa sallam secara keseluruhan merupakan orang-  orang yang terpelihara dari kesalahan. Dan kita telah diperintahkan untuk  berpegang teguh kepada sunnahnya salallahu &#8216;alaihi wa sallam dan sunnah para  shahabatnya. Hendaklah kita senantiasa konsisten terhadap pemahaman Al-Qur&#8217;an  dan As-Sunnah sesuai dengan manhaj (metode pemahaman) para shahabat. Agar kita  tetap berada di dalam &#8220;al-&#8217;ishmah&#8221; (terlindung dari kesesatan) dan tidak  menyimpang dari manhaj mereka, dengan memakai pemahaman sendiri yang sama sekali  tidak didukung oleh Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kemudian, mengapa  tidak cukup bagi kita dengan hanya menisbatkan diri kepada Al-Qur&#8217;an dan  As-Sunnah saja, tanpa pemahaman Salafus Shalih? Maka dalam hal ini ada dua sebab  :</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Pertama, sebab  yang berhubungan dengan nash-nash syar&#8217;iah.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kedua, sebab yang  berhubungan dengan kenyataan yang ada pada kelompok-kelompok  Islam.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Penjelasan.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">1. Yang  berhubungan dengan sebab pertama:</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kita temukan  dalam nash-nash syar&#8217;iah, perintah untuk mentaati segala sesuatu yang  disandarkan kepada Al-Kitab dan As-Sunnah sebagaimana firman Allah Ta&#8217;ala  :</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Hai orang-orang  yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya serta ulil amri (ulama dan umara) di  antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu maka  kembalikanlah hal itu kepada Allah (Al-Qur&#8217;an) dan Rasul (As-Sunnah), bila kamu  benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama  (bagimu) dan lebih baik akibatnya.&#8221; (An- Nisa:59)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Seandainya ada  seorang Waliyul Amri (pemimpin kaum muslimin) yang telah dibaiat oleh kaum  muslimin maka kita wajib taat kepadanya, sebagaimana kita wajib taat kepada  Al-Kitab dan As- Sunnah. Meskipun dia dan para pengikutnya kadang-kadang berbuat  salah. Kita wajib taat kepadanya untuk mencegah kerusakan yang ditimbulkan  karena perselisihan tersebut, tetapi ketaatan itu harus dengan syarat yang sudah  dikenal, yaitu:</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Tidak ada  ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah.&#8221; (HR Ahmad, dishahihkan oleh  Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah, hadits no.197)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dan Allah Azza wa  Jalla juga berfirman : &#8220;Barang siapa menentang Rasul setelah jelas kebenaran  baginya dan mengikuti selain jalannya Sabilil Mukminin (para shahabat), maka  kami biarkan dia tenggelam dalam kesesatan (berpalingnya dia dari kebenaran) dan  kami masukkan ke neraka Jahannam. Dan itu merupakan seburuk-buruk tempat  kembali.&#8221; (An-Nisa&#8217;:115)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Sungguh, Allah  Azza wa Jalla adalah Dzat yang Maha Tinggi sehingga tidak mungkin Dia berkata  tanpa faedah dan hikmah. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa penyebutan  Sabilul Mukminin (jalannya orang-orang mukmin) dalam ayat ini mempunyai hikmah  dan faedah yang sangat tinggi.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Penyebutan ini  menunjukkan bahwa di sana ada suatu kewajiban yang sangat penting, yaitu :  ittiba&#8217; kita terhadap Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah harus sesuai dengan manhaj yang  dipahami dan dijalankan oleh generasi awal kaum muslimin, para shahabat  ridhwanullah alaihim kemudian generasi berikutnya (para tabi&#8217;in), kemudian  generasi berikutnya (tabi&#8217;ut tabi&#8217;in). Dan seruan inilah yang senantiasa  dikumandangkan oleh Da&#8217;wah Salafiyah sekaligus menjadi rujukan utama mereka,  baik dalam asas dakwah maupun dalam manhaj tarbiyah.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Sesungguhnya  dakwah Salafiyah pada hakekatnya hendak menyatukan umat Islam, sedangkan  dakwah-dakwah yang lain justru sebaliknya memecah-belah umat. Allah Ta&#8217;ala  berfirman : &#8220;Dan hendaklah kamu bersama-sama orang yang benar.&#8221;  (At-Taubah:119)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Maka barang siapa  yang ingin memisahkan Al-Kitab dan As-Sunnah di satu sisi dan para Salafus  Shalih di sisi lain, dengan memahami dan mengamalkan Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah  tidak sesuai dengan pemahaman mereka, maka selamanya dia tidak akan menjadi  orang yang shadiq (benar).</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">2. Yang  berhubungan dengan sebab kedua.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kelompok-kelompok  dan partai yang ada pada zaman ini tidak mau beralih secara total kepada Sabilul  Mukminin yang tersebut pada ayat di atas, yang hal ini diperkuat oleh beberapa  hadits. Antara lain hadits &#8220;Iftiraqul Ummah&#8221; (perpecahan umat) menjadi 73 firqah  (golongan), semuanya masuk neraka kecuali satu golongan yang ciri-ciri mereka  telah disebutkan oleh Rasulullah salallahu &#8216;alaihi wa sallam : &#8220;Golongan itu  ialah yang mengikuti sunnahku dan sunnah para shahabatku hari ini.&#8221; (lihat :  Silsilah Al-Hadits Ash-Shohihah, Syaikh Al-Albani no 203 &amp;  1192)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Hadits ini serupa  dengan ayat di atas (QS. An-Nisa: 115), dimana keduanya menyebutkan Sabilul  Mukminin. Kemudian dalam hadits lain dari Irbadh bin Sariyah, Rasulullah  salallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Wajib bagi  kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang  mendapat petunjuk sesudahku&#8221; (lihat: Irwa&#8217;ul Ghalil,Al-Albani no  2455)</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Berdasarkan  keterangan di atas, maka di sana ada sunnah yang harus kita pegang teguh yaitu  sunnah Rasulullah salallahu &#8216;alaihi wa sallam dan sunnah khulafaur Rasyidin.  Oleh karena itu, kita wajib kembali kepada Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah serta Sabilul  Mukminin (jalannya para shahabat). Tidak boleh kita mengatakan: &#8220;Kami memahami  Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah dengan pemahaman sendiri, tanpa memandang sedikitpun  pada pemahaman Salafus Sholih.&#8221;</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Pada zaman  sekarang ini, kita harus melakukan bara&#8217; (pemisahan diri) yang betul-betul bisa  membedakan diri kita dengan golongan sesat lainnya. Tidak cukup bagi kita hanya  dengan mengucapkan: &#8220;saya muslim&#8221; atau &#8220;madzhabku Islam&#8221;, sebab  golongan-golongan yang sesatpun menyatakan demikian. Seperti kaum Syiah  Rafidhah, Ibadhiyyah, Qadiyaniyyiah (Ahmadiyah) maupun golongan-golongan sesat  lainnya. Sehingga apa bedanya kita dengan golongan sesat  tersebut?</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Bila kita  mengatakan : &#8220;Saya seorang muslim yang mengikuti Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah.&#8221;  Ucapan ini masih belum cukup karena kelompok-kelompok (sesat) seperti  Asy&#8217;ariyah, Maturudiyah, dan kaum Hizbiyah, mereka juga mengaku mengikuti  Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah. Sehingga tidak diragukan lagi bahwa penamaan yang jelas  dan gamblang serta dapat membedakan antara golongan yang selamat dengan golongan  yang sesat ialah dengan mengatakan: &#8220;Saya seorang muslim yang mengikuti  Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah sesuai dengan manhaj Salafus Shalih&#8221; atau lebih  singkatnya: &#8220;Saya Salafi!&#8221;</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Oleh sebab itu,  sesungguhnya kebenaran yang tidak bisa disangsikan lagi ialah : tidak cukup kita  hanya bersandar dengan Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah tanpa tuntunan dari manhaj  Salafus Shalih, baik dalam pemahaman dan pola pikir, dalam ilmu dan amal, maupun  dalam dakwah dan jihad.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kita semua  mengetahui bahwa mereka semua (para Salafus Shalih ridhwanullah alaihim ajma&#8217;in)  tidak fantaik terhadap satu madzhab atau kepada individu tertentu. Sehingga kita  tidak pernah menemukan di antara mereka ada yang bersikap fanatik tergadap Abu  Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, ataupun Ali bin Abi Thalib  radhiallahu anhum.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Bahkan sebaliknya  seorang diantara mereka jika memungkinkan untuk bertanya kepada Abu Bakar atau  Umar atau Abu Hurairah, maka mereka akan bertanya kepadanya (tanpa memilih-  milih). Semua itu mereka lakukan karena mereka meyakini bahwa tidak boleh  seseorang memurnikan ittiba&#8217;nya kecuali kepada seorang yaitu Rasulullah  salallahu &#8216;alaihi wa sallam. Sebab beliau salallahu &#8216;alaihi wa sallam tidaklah  berkata menurut hawa nafsunya, melainkan hanyalah berdasarkan wahyu yang  diwahyukan kepadanya.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kalaupun kita  bisa menerima bantahan orang-orang yang mengkritik pemahaman salafi, sehingga  kita cukup hanya menamakan diri dengan istilah muslim saja, tanpa menisbatkan  diri kepada Salafus Shalih meskipun penisbatan tersebut merupakan penisbatan  yang mulia dan shahih. Lantas apakah dengan demikian orang-orang yang  mengkiritik itu bersedia melepaskan diri dari penamaan terhadap  kelompok-kelompok, madzhab-madzhab, thariqat-thariqat mereka meskipun penisbatan  itu semua tidak syar&#8217;i dan tidak shahih?</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">&#8220;Cukuplah bagimu  perbedaan diantara kita ini. Dan setiap bejana akan memancarkan air yang ada di  dalamnya.&#8221; Allahlah yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Dan Dialah  tempat meminta pertolongan.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">(Edisi Perdana  Salafy/Syaban/1416/1995, Rubrik Mabhats, hal 8-10)</span></span></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafsalafy.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafsalafy.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafsalafy.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafsalafy.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafsalafy.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafsalafy.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafsalafy.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafsalafy.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafsalafy.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafsalafy.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafsalafy.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafsalafy.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafsalafy.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafsalafy.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafsalafy.wordpress.com&amp;blog=7689201&amp;post=9&amp;subd=salafsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/10/mengapa-kita-harus-memakai-nama-salafy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/59a1a5f92930558279e8b3dbad7cb74c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">generasighuroba</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Dan Apa Itu Salafy?</title>
		<link>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/10/mengapa-dan-apa-itu-salafy/</link>
		<comments>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/10/mengapa-dan-apa-itu-salafy/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 May 2009 05:39:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>generasighuroba</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[ahlussunnah]]></category>
		<category><![CDATA[artikel salafy]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj salaf]]></category>
		<category><![CDATA[salaf]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafsalafy.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Syaikh Salim Al Hilali Upaya penyaringan terhadap segala hal yang bukan berasal dari ajaran Islam, baik dalam hal Aqidah, Ahkam (hukum) maupun Akhlaq, selayaknya terus dilakukan, agar Islam kembali bersih berseri, murni dalam naungan risalah sebagaimana risalah yang telah diturunkan kepada Muhammad Shalallahu &#8216;alaihi wa Sallam dan diajarkan pada Sahabatnya, yang diteruskan oleh pengikutnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafsalafy.wordpress.com&amp;blog=7689201&amp;post=7&amp;subd=salafsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Penulis: Syaikh  Salim Al Hilali</span></span></strong></p>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Upaya penyaringan  terhadap segala hal yang bukan berasal dari ajaran Islam, baik dalam hal Aqidah,  Ahkam (hukum) maupun Akhlaq, selayaknya terus dilakukan, agar Islam kembali  bersih berseri, murni dalam naungan risalah sebagaimana risalah yang telah  diturunkan kepada Muhammad Shalallahu &#8216;alaihi wa Sallam dan diajarkan pada  Sahabatnya, yang diteruskan oleh pengikutnya hingga hari  kiamat.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><span id="more-7"></span><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Upaya penyaringan  terhadap segala hal yang bukan berasal dari ajaran Islam, baik dalam hal Aqidah,  Ahkam (hukum) maupun Akhlaq, selayaknya terus dilakukan, agar Islam kembali  bersih berseri, murni dalam naungan risalah sebagaimana risalah yang telah  diturunkan kepada Muhammad Shalallahu &#8216;alaihi wa Sallam dan diajarkan pada  Sahabatnya, yang diteruskan oleh pengikutnya hingga hari  kiamat.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Maka untuk tujuan  tersebut, maka perlu digencarkan pendidikan atas generasi muslim dengan Islam  yang murni dengan Tarbiyah Imaniyyah (pendidikan keimanan), sehingga membekas di  lubuk hati para kader Islam. Maka disinilah peran Dakwah Salafiyyah, yang  berpegang dengan pemahaman Rasulullah beserta Sahabatnya, yang terus berupaya  menegakkan tonggak Islam di atas tonggak yang mengokohkan Islam di masa  lalu.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Menjadi suatu  keharusan mutlak bagi setiap Muslim, yang menginginkan kesuksesan dan merindukan  kehidupan yang mulia, serta kemenangan di dunia dan di akhirat, bahwa dalam  memahami Al Qur&#8217;an dan As Sunnah yang shahih harus dengan pemahaman Muslimin  yang terbaik (Salaful Ummah) yaitu para Sahabat Rasulullah dan Tabi&#8217;in (murid  Sahabat), serta siapapun yang mengikuti jalan mereka dengan baik hingga hari  kiamat.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dipilihnya metode  ini, karena tidak dapat dibandingkan (dengan siapaun, selain dengan Rasulullah)  kelurusan, kebenarannya, dalam fikrah, pemahaman dan manhaj yang lebih benar dan  lebih lurus dibanding pemahaman dan manhaj Salafus Shalih (jalannya para Salaf  yakni Sahabat Rasulullah, Tabi&#8217;in dan Pengikutnya, yang Shalih hingga hari  kiamat).</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Oleh karena itu  tidak akan pernah bisa baik kehidupan umat yang akhir ini kecuali dengan apa  yang telah menjadikan baik generasi awal.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Apabila kita  teliti dengan seksama dalil-dalil dari Al Qur&#8217;an maupun As Sunnah serta ijma&#8217;  dan qiyas maka bisa disimpulkan dari dalil-dalil tersebut tentang wajibnya  memahami Al Qur&#8217;an dan As Sunnah dalam bimbingan manhaj Salafus Sholih, karena  itu merupakan pemahaman yang disepakati kebenarannya sepanjang abad perjalanan  dakwah ini.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Maka itu tidak  dibenarkan bagi siapa saja, setinggi apapun kedudukannya, memahami Islam ini  selain pemahaman Salafus Sholih (pemahamannya dapat dilihat di tafsir Al Quran  karya para Sahabat, penjelasan hadits dalam kitab-kitab Hadist dan  tulisan-tulisan para Sahabat &amp; pengikutnya). Dan siapapun juga yang membenci  pemahaman Salaf lalu menggantinya dengan bid&#8217;ah-bid&#8217;ah orang belakangan  (orang-orang sesudah generasi Salaf ) yang diracuni dengan berbagai pemahaman  yang membahayakan dan yang tidak selamat dari pemahaman asing, akan  mengakibatkan tercerai-berainya kamu muslimin.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Sesungguhnya  Salafus Shalih Radiyallahu anhum telah nyata kebaikan mereka baik dalam nash  maupun istimbat, Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 100. &#8220;Dan generasi  yang terdahulu dan pertama-tama (masuk Islam) diantara kaum Muhajirin dan Anshar  serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah ridha kepada  mereka (Muhajirin &amp; Anshar = Sahabat/Salafus Sholih) dan mereka ridha kepada  Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai  di dalamnya mereka kekal didalamnya selama- lamanya. Itulah kemenangan yang  agung. Dengan dalil ayat ini (QS At Taubah 100) dapat diambil pemahaman bahwa  Allah Sang Pencipta telah memuji terhadap mereka yang mengikuti kepada  sebaik-baik manusia. Telah diketahui bahwa apabila sebaik-baik manusia itu  mengatakan suatu perkataan, kemudian ada seseorang yang mengikuti mereka, maka  dia wajib untuk mendapatkan pujian dan berhak untuk mendapatkan  keridhaan.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Kalau seandainnya  sikap ittiba&#8217; mereka tidak membedakan dengan selain mereka (yang tidak ittiba&#8217;)  maka dia tidaklah berhak mendapatkan pujian dan keridhaan. Siapakah sebaik-baik  manusia itu? Mereka adalah para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka  dengan baik, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur&#8217;an surat Al Bayyinah : 7  &#8220;Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih merekalah sebaik-baik  manusia&#8221;. Allah berfirman dalam surat Ali Imran : 110 : &#8220;Kalian adalah umat  terbaik yang telah ditampilkan untuk manusia, kalian telah beramar makruf dan  bernahi munkar dan beriman kepada Allah&#8221;.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Dari sini kita  mendapatkan petunjuk bahwa Allah telah memuji dan menyatakan keutamaan mereka  (Sahabat) atas segala umat, dan apabila ingin dipuji ALLAH juga, maka ummat ini  harus istiqamah dalam segala hal mengikuti Salafus Sholih.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Disamping itu  Salafus Sholih sesungguhnya memang tidak pernah menyimpang dari cahaya (petunjuk  Ilmu Al Quran dan Sunnah) yang terang benderang (Al Haq) ini. Maka jika ada yang  berkata :&#8221;Ini (gelar sebaik-baik umat, pen.) bersifat umum dalam umat ini, tidak  hanya terbatas pada generasi Sahabat saja,&#8221;saya katakan bahwa mereka (para  sahabat) adalah obyek pembicaraan yang pertama, dan orang yang mengikuti mereka  dengan baik tidak masuk dalam pembicaraan ayat diatas, kecuali kalau ada  penjelasan dengan qiyas atau dalil lain sebagaimana dalam dalil  pertama.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Secara umum dan  ini yang benar, Sahabat adalah yang pertama kali masuk dalam obyek pembicaraan  karena merekalah yang pertama kali mengambil ilmu dan amal langsung dari  Rasullullah Shalallahu &#8216;alaihi wa salam tanpa perantara, dan merekalah yang  mendapat kabar gembira dengan wahyu ini.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Oleh karena itu,  merekalah yang paling pertama masuk dalam pembicaraan ayat ini dibanding yang  lain disebabkan sifat-sifat yang telah diberikan kecuali kepada mereka (para  Sahabat). Pun kecocokan sifat dengan pensifatan Allah adalah merupakan bukti  bahwa mereka lebih berhak mendapatkan pujian dari pada yang lain. Sabda  Rasullullah Shalallahu &#8216;alaihi wa salam : &#8220;Sebaik- baik manusia adalah  generasiku (generasi Rasulullah &amp; Shahabat), kemudian orang-orang sesudah  mereka (Tabi&#8217;in) kemudian orang-orang sesudah mereka (Tabi&#8217;ut Tabi&#8217;in.). Sesudah  itu akan datang kaum yang kesaksian mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya  mendahului kesaksiannya.&#8221; (HR. Bukhari IV/189, Muslim VII/184-185, Ahmad I/424  dll).</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Apakah kebaikan  yang ditetapkan kepada para Sahabat yang dimaksudkan adalah dalam hal bentuk  mereka? Atau jasad mereka, harta mereka, tempat tinggal mereka, atau ?? Tidak  diragukan lagi bagi orang yang memiliki akal yang sempurna, memahami Al Qur&#8217;an  dan As Sunnah dengan benar, bahwa bukan itu semua yang dimaksudkan disini, sama  sekali bukan.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Rasulullah  Shalallahu &#8216;alaihi wa salam tidaklah berbicara dengan hawa nafsunya. Apa saja  yang berasal darinya adalah Ar-Rusyd (Al Haq) dan Al Huda (petunjuk). Para  sahabat semuanya adil (jujur). Mereka tidak berbicara kecuali dengan jujur dan  tidak beramal kecuali dengan haq. Demikian para sahabat. Mengikuti mereka akan  memberi keselamatan dari kegelapan syahwat (kebrutalan hawa nafsu) dan subhat  (bahaya pengaburan), dan siapapun yang berpaling dari pemahaman para sahabat  maka dia berada dalam kesesatan dimana kegelapan demi kegelapan semakin  melilitnya sehingga kalau dia mengulurkan tangannya hampir tidak akan terlihat.  Dengan pemahaman sahabat, kita membentengi Al Qur&#8217;an dan As Sunnah dari berbagai  bid&#8217;ah setan dari jenis manusia ataupun jin. Mereka hanya menginginkan timbulnya  fitnah dan menghendaki takwilnya untuk merusak apa yang dimaksudkan Allah dan  Rasul-Nya. Maka pemahaman sahabat radhiallahu anhum adalah benteng dari segala  keburukan dan benteng dari sebab-sebab yang menimbulkannya. Kalau pemahaman para  sahabat tidak bisa dijadikan hujjah maka mustahil pemahaman generasi setelah  para sahabat menjaga pemahaman para sahabat dan menjadi benteng baginya. Apabila  pengkhususan dan pembatasan ini ditolak yaitu wajibnya memahami Al Qur&#8217;an dan as  Sunnah yang shahih dengan pemahamannya &#8216; maka akan semakin jauhlah seorang  muslim dari &#8220;kebenaran yang mutlak,&#8221; dan (yang lebih buruk lagi) berbagai firqah  dan partai akan menjadi terhalang untuk kembali ke jalan yang  benar.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Sesungguhnya Al  Qur&#8217;an dan As Sunnah adalah merupakan penangkal berbagai pemahaman yang  menyimpang seperti : Mu&#8217;tazilah, Murji&#8217;ah, Jahmiyyah, Syi&#8217;ah, Tasawwuf/Sufi,  Khawarij, Bathiniyyah, dan selain mereka, maka tidak boleh tidak harus ada  pemisahan.</span></span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;">Wallahu  a&#8217;lam</span></span></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafsalafy.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafsalafy.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafsalafy.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafsalafy.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafsalafy.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafsalafy.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafsalafy.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafsalafy.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafsalafy.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafsalafy.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafsalafy.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafsalafy.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafsalafy.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafsalafy.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafsalafy.wordpress.com&amp;blog=7689201&amp;post=7&amp;subd=salafsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/10/mengapa-dan-apa-itu-salafy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/59a1a5f92930558279e8b3dbad7cb74c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">generasighuroba</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Salaf Dan Salafiyah Secara Bahasa 1</title>
		<link>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/10/salaf-dan-salafiyah-secara-bahasa-1/</link>
		<comments>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/10/salaf-dan-salafiyah-secara-bahasa-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 May 2009 05:35:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>generasighuroba</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[artikel salafy]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj salaf]]></category>
		<category><![CDATA[salaf]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafsalafy.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly Bagian Pertama dari Dua Tulisan [1/2] Saya menginginkan orang yang berjalan di atas manhaj salaf dengan ilmu, dan ini syaratnya : &#8220;Artinya : Katakanlah : Inilah (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafsalafy.wordpress.com&amp;blog=7689201&amp;post=4&amp;subd=salafsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span><strong>Oleh<br />
Syaikh Abu Usamah Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly</strong><br />
Bagian Pertama dari Dua  Tulisan [1/2]</span></p>
<p>Saya menginginkan orang yang berjalan di atas  manhaj salaf dengan ilmu, dan ini syaratnya :</p>
<p>&#8220;Artinya : Katakanlah :  Inilah (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada  Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk  orang-orang yang musyrik&#8221; [Yusuf : 108]</p>
<p>Untuk mengetahui bahwa  penunjukkan dan pecahan kata ini mengalahkan ikatan fanatisme kelompok yang  merusak dan melampui lorong sempit kerahasiaan karena dia itu sangat jelas  seperti jelasnya matahari di siang hari.</p>
<p><span id="more-4"></span>&#8220;Artinya : Siapakah yang lebih  baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal  yang salih dan berkata : &#8216;Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah  diri&#8221; [Fush shilat : 33]</p>
<p>Kata salaf secara bahasa bermakna orang yang  telah terdahulu dalam ilmu, iman, keutamaan dan kebaikan.</p>
<p>Berkata Ibnul  Mandzur (Lisanul Arab 9/159) : Salaf juga berarti orang-orang yang mendahului  kamu dari nenek moyang, orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan denganmu  dan memiliki umur lebih serta keutamaan yang lebih banyak. Oleh karena itu,  generasi pertama dari Tabi&#8217;in dinamakan As-Salafush Shalih.</p>
<p>Saya berkata  : Dan dengan makna ini adalah perkataan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam  kepada putrinya Fathimah Radhiyallahu &#8216;anha.</p>
<p>&#8220;Artinya : Sesungguhnya  sebaik-baik pendahulu (salaf) bagimu adalah aku&#8221;<br />
[Hadits Shahih Riwayat  Muslim No. 2450]</p>
<p>Dan diriwayatkan dari beliau Shallallahu &#8216;alihi wa  sallam bahwa beliau berkata kepada putri beliau Zainab Radhiyallahu &#8216;anha ketika  dia meninggal.</p>
<p>&#8220;Artinya : Susullah salaf shalih (pendahulu kita yang  sholeh) kita Utsman bin Madz&#8217;un&#8221; [1]</p>
<p>Adapun secara istilah, maka dia  adalah sifat pasti yang khusus untuk para sahabat ketika dimutlakkan dan yang  selain mereka diikutsertakan karena mengikuti mereka.</p>
<p>Al-Qalsyaany  berkata dalam Tahrirul Maqaalah min Syarhir Risalah (q 36) : As-Salaf Ash-Shalih  adalah generasi pertama yang mendalam ilmunya lagi mengikuti petunjuk Rasulullah  dan menjaga sunnahnya. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah memilih mereka untuk  menegakkan agamaNya dan meridhoi mereka sebagai imam-imam umat. Mereka telah  benar-benar berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan menghabiskan umurnya  untuk memberikan nasihat dan manfaat kepada umat, serta mengorbankan dirinya  untuk mencari keridhoan-Nya.</p>
<p>Sungguh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah  memuji mereka dalam kitabNya dengan firmanNya.</p>
<p>&#8220;Artinya : Muhammad itu  adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap  orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka&#8221; [Al-Fath :  29]</p>
<p>Dan firman Allah.</p>
<p>&#8220;Artinya : (Juga) bagi para fuqara yang  berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena)  mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan  Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar&#8221; [Al-Hasr : 8]</p>
<p>Di dalam  ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menyebut kaum muhajirin dan Anshor kemudian  memuji itiba&#8217; (sikap ikut) kepada mereka dan meridhoi hal tersebut demikian juga  orang yang menyusul setelah mereka dan Allah Subahanahu wa Ta&#8217;ala mengancam  dengan adzab orang yang menyelisihi mereka dan mengikuti jalan selain jalan  mereka, maka Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan  barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti  jalan yang bukan jalan orang-orang mu&#8217;min. Kami biarkan ia leluasa terhadap  kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan  Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali&#8221; [An-Nisa' : 115]</p>
<p>Maka  merupakan suatu kewajiban mengikuti mereka pada hal-hal yang telah mereka  nukilkan dan mencontoh jejak mereka pada hal-hal yang telah mereka amalkan serta  memohonkan ampunan bagi mereka, Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala  berfirman.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan orang-orang yang datang sesudah mereka  (Muhajirin dan Anshar) mereka berkata : &#8220;Ya Rabb kami, beri ampunilah kami dan  saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah  Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman  Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang&#8221; [Al-Hasr :  10]</p>
<p>Istilah ini pun diakui oleh orang-orang terdahulu dan mutaakhirin  dari ahli kalam.</p>
<p>Al-Ghazaali berkata dalam kitab Iljaamul Awaam an Ilmil  Kalaam hal 62 ketika mendefnisikan kata As-Salaf : Saya maksudkan adalah madzhab  sahabat dan tabiin.</p>
<p>Al-Bajuuri berkata dalam kitab Syarah Jauharuttauhid  hal. 111 : Yang dimaksud dengan salaf adalah orang-orang yang terdahulu yaitu  para Nabi, sahabat, tabi&#8217;in dan tabiit-tabiin.</p>
<p>Istilah inipun telah  dipakai oleh para ulama pada generasi-generasi yang utama untuk menunjukkan masa  shohabat dan manhaj mereka, diantaranya :</p>
<p>[1]. Berkata Imam Bukhari (6/66  Fathul Bariy) : Rasyid bin Sa&#8217;ad berkata : Dulu para salaf menyukai kuda jantan,  karena dia lebih cepat dan lebih kuat.</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Hajar menafsirkan  perkataan Rasyid ini dengan mengatakan : Yaitu dari para sahabat dan orang  setelah mereka.</p>
<p>Saya berkata : Yang dimaksud adalah shahabat karena  Rasyid bin Saad adalah seorang Tabi&#8217;in maka sudah tentu yang dimaksud di sini  adalah shahabat.</p>
<p>[2]. Berkata Imam Bukhari (9/552 Fathul Bariy) : Bab  As-Salaf tidak pernah menyimpan di rumah atau di perjalanan mereka makanan  daging dan yang lainnya.</p>
<p>Saya berkata ; Yang dimaksud adalah  shahabat.</p>
<p>[3]. Imam Bukhari berkata (1/342 Fathul Bariy) : Dan Az-Zuhri  berkata tentang tulang-tulang bangkai seperti gajah dan yang sejenisnya : Saya  menjumpai orang-orang dari kalangan ulama Salaf bersisir dan berminyak dengannya  dan mereka tidak mempersoalkan hal itu.</p>
<p>Saya berkata : Yang dimaksud  adalah sahabat karena Az-Zuhri adalah seorang tabiin.</p>
<p>[4]. Imam Muslim  telah mengeluarkan dalam Muqadimah shahihnya hal.16 dari jalan periwayatan  Muhammad bin Abdillah, beliau berkata aku telah mendengar Ali bin Syaqiiq  berkata ; Saya telah mendengar Abdullah bin Almubarak berkata &#8211; di hadapan  manusia banyak- : Tinggalkanlah hadits Amru bin Tsaabit, karena dia mencela  salaf.</p>
<p>Saya berkata : Yang dimaksud adalah sahabat.</p>
<p>[5]. Al-Uza&#8217;iy  berkata : Bersabarlah dirimu di atas sunnah, tetaplah berdiri di tempat kaum  tersebut berdiri, katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tinggalkanlah apa  yang mereka tinggalkan dan tempuhlah jalannya As-Salaf Ash-Shalih, karena akan  mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka [Dikeluarkan oleh Al-Aajury dalam  As-Syari'at hal.57]</p>
<p>Saya berkata : Yang dimaksud adalah sahabat. Oleh  karena itu, kata As-Salaf telah mengambil makna istilah ini dan tidak lebih dari  itu. Adapun dari sisi periodisasi (perkembangan zaman), maka dia dipergunakan  untuk menunjukkan generasi terbaik dan yang paling benar untuk dicontoh dan  diikuti, yaitu tiga generasi pertama yang telah dipersaksikan dari lisan  sebaik-baiknya manusia Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bahwa mereka  memiliki keutamaan dengan sabdanya.</p>
<p>&#8220;Artinya : Sebaik-baik manusia adalah  generasiku, kemudian generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi  kemudian datang kaum yang syahadahnya salah seorang dari mereka mendahului  sumpahnya dan sumpahnya mendahului syahadahnya&#8221; [Dan dia adalah hadits Mutawatir  akan datang Takhrijnya]</p>
<p>[Disalin dari Kitab Limadza Ikhtartu  Al-Manhaj As-Salafy, edisi Indonesia Mengapa Memilih Manhaj Salaf (Studi Kritis  Solusi Problematika Umat) oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-Hilaly,  terbitan Pustaka Imam Bukhari, penerjemah Kholid Syamhudi]<br />
_________<br />
Foote  Note.<br />
[1]. Hadits Shahih Riwayat Ahmad 1/237-238 dan Ibnu Saad dalam  Thobaqaat 8/37 dan di shahihkan oleh Ahmad Syakir dalam Syarah Musnad No. 3103,  akan tetapi dimasukkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Dhoifh No. 1715</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafsalafy.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafsalafy.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafsalafy.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafsalafy.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafsalafy.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafsalafy.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafsalafy.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafsalafy.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafsalafy.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafsalafy.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafsalafy.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafsalafy.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafsalafy.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafsalafy.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafsalafy.wordpress.com&amp;blog=7689201&amp;post=4&amp;subd=salafsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/10/salaf-dan-salafiyah-secara-bahasa-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/59a1a5f92930558279e8b3dbad7cb74c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">generasighuroba</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/10/hello-world/</link>
		<comments>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/10/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 May 2009 03:21:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>generasighuroba</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafsalafy.wordpress.com&amp;blog=7689201&amp;post=1&amp;subd=salafsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafsalafy.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafsalafy.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafsalafy.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafsalafy.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafsalafy.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafsalafy.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafsalafy.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafsalafy.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafsalafy.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafsalafy.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafsalafy.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafsalafy.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafsalafy.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafsalafy.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafsalafy.wordpress.com&amp;blog=7689201&amp;post=1&amp;subd=salafsalafy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafsalafy.wordpress.com/2009/05/10/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/59a1a5f92930558279e8b3dbad7cb74c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">generasighuroba</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
